Millah Ibrohim bag.3


Inilah diin seluruh Rosul.. dan inilah dakwah dan jalan mereka sebagaimana yang diterangkan dalam berbagai ayat dan hadits… dan begitu pula dalam firman Alloh ta’aalaa dalam surat Al Mumtahanah yang berbunyi:
و الذين معه
Dan orang-orang yang bersamanya
Maksudnya adalah para Rosul yang berada di atas diin dan millahnya .. hal ini dikatakan oleh lebih dari seorang mufassir (ahli tafsir)
Dan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan mengatakan: “Dan inilah yang dimaksud dengan idh-haarud diin, bukan sebagaimana yang dikira oleh orang-orang bodoh yang mengira bahwasanya jika orang-orang kafir membiarkannya sholat, membaca Al Qur’an dan menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah yang dia inginkan berarti dia telah melaksanakan idh-haarud diin. Ini adalah salah besar. Karena sesungguhnya orang yang menyatakan permusuhan kepada orang musyrik dan baroo’ kepada mereka tidak akan mereka biarkan tinggal ditengah-tengah mereka, akan tetapi mereka akan membunuh atau mengusirnya jika mereka mempunyai kesempatan sebagaimana yang diterangkan dalam firman Alloh ta’aalaa mengenai orang-orang kafir, yang berbunyi:
وقال الذين كفروا لرسلهم لنخرجنكم من أرضنا أولتعودن في ملتنا
Dan orang-orang kafir mengatakan kepada Rosul-rosul mereka: Kami pasti akan mengusir kalian dari wilayah kami atau kalian harus kembali kepada millah kami … (Ibrohim: 13)
Dan Alloh ta’aalaa menceritakan tentang kaumnya Syu’aib:
لنخرجنك يا شعيب والذين آمنوا معك من قريتنا أو لتعودن في ملتنا
Kami benar-benar akan mengusirmu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari wilayah kami wahai Syu’aib atau kalian harus kembali kepada millah kami…(Al A’roof: 88)
Dan Alloh ta’aalaa menceritakan tentang kisah ash-haabul kahfi (orang-orang yang menyelamatkan diri ke goa), sesungguhnya mereka mengatakan:
إنهم إن يظهروا عليكم يرجموكم أو يعيدوكم في ملتهم ولن تفلحوا إذا أبدا
Sesungguhnya jika kalian nampak oleh mereka niscaya mereka melempari kalian dengan batu atau mengembalikan kalian kepada millah mereka dan dengan demikian kalian tidak akan beruntung selamanya. (Al Kahfi: 20)
Dan bukankah permusuhan mereka terhadap para Rosul itu memuncak hanya setelah para Rosul itu mencaci diin mereka, membodoh-bodohkan akal mereka dan mencela ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka.” (Dari Ad Duror, juz Jihad, hal. 208)
Dan Syaikh Sulaimaan bin Samhaan mengatakan mengenai ayat yang terdapat dalam surat Al Mumtahanah juga: “Inilah millah Ibrohim yang Alloh ta’aalaa maksudkan dalam firmanNya yang berbunyi:
ومن يرغب عن ملة إبراهيم إلا من سفه نفسه
Dan tidak ada orang yang membenci millah Ibrohim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. (Al Baqoroh: 130)
Maka orang muslim harus memusuhi musuh-musuh Alloh ta’aalaa, menampakkan permusuhan kepada mereka, menjauhkan diri dari mereka sejauh-jauhnya, dan tidak boleh berwalaa’ kepada mereka atau bergaul dengan mereka atau berbaur dengan mereka…” (Ad Duror As Sunniyah, juz Jihad, hal. 221)
Dan di tempat lain Alloh ta’aalaa menceritakan tentang millah Ibrohim:
قال أفرأيتم ما كنتم تعبدون أنتم وآباؤكم الأقدمون  فإنهم عدو لي إلا رب العالمين
Ibrohim mengatakan: Tahukah kalian apa yang kalian ibadahi. Baik kalian maupun bapak-bapak kalian yang terdahulu. Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku kecuali Robb semesta alam. (Asy Syu’aroo’: 75-77)
Dan di tempat yang lain Alloh ta’aalaa berfirman:
وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين
Dan ingatlah ketika Ibrohim mengatakan kepada bapak dan kaumnya: Sesungguhnya aku baroo’ kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi kecuali Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. (Az Zukhruf: 26-27)
Syaikh Al ‘Allaamah ‘Abrur Rohmaan bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rh mengatakan: “Dan Alloh ta’aalaa telah mewajibkan baroo’ terhadap kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik, serta mengkufuri, memusuhi, membenci dan jihad terhadap mereka:
فبدل الذين ظلموا قولا غير الذي قيل لهم
Maka orang-orang dholim merubahnya dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka. (Al Baqoroh: 59)
Maka merekapun berwalaa’, membantu dan menolong orang-orang musyrik itu. Dan orang-orang musyrik itupun meminta bantuan kepada mereka untuk memusuhi orang-orang beriman. Sehingga dalam rangka itu mereka membenci dan mencela orang-orang beriman. Dan perbuatan-perbuatan ini semuanya membatalkan Islam sebagaimana yang diterangkan oleh Al Qur’an dan Sunnah pada beberapa tempat.
- Di sini ada sebuah syubhat yang dilontarkan banyak orang yang tergesa-gesa. Mereka mengatakan: Sesungguhnya millah Ibrohim itu hanyalah dilakukan pada fase dakwah yang terakhir yang mana sebelumnya telah melalui proses dakwah dengan cara hikmah (bijaksana) dan berdebat dengan cara yang paling baik. Dan seorang da’i (juru dakwah) tidak boleh melaksanakan millah Ibrohim yang berarti baroo’ kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan kepada sesembahan-sesembahan mereka, dan kufur kepadanya, serta menunujukkan permusuhan dan kebencian kepada mereka kecuali setelah menempuh seluruh tata cara yang lembut dan hikmah.. mengenai persoalan ini kami jawab ---wabillaahit taufiiq---: Kerancuan ini sebenarnya muncul dari ketidak jelasan mereka dalam memahami millah Ibrohim dan karena mencampur adukkan antara metode dakwah kepada orang-orang kafir pada tahap permulaan dengan metode dakwah kepada orang-orang kafir yang membangkang… dan juga perbedaan antara semua itu (sikap terhadap orang-orang musyrik-pentj.) dengan sikap seorang muslim terhadap sesembahan-sesembahan, manhaj-manhaj dan syariat-syariat orang-orang kafir yang batil itu sendiri… adapun millah Ibrohim yang berarti memurnikan ibadah hanya kepada Alloh ta’aalaa saja dan kufur terhadap segala sesuatu yang kita ibadahi selain Alloh ta’aalaa, ini tidak boleh diakhirkan atau diundur… bahkan seharusnya tidak dimulai kecuali dengannya. Karena ini merupakan kandungan laa ilaaha illallooh yang mencakup An Nafyu (peniadaan) dan Al Itsbaat (penetapan). Dan ini adalah dasar diin dan poros dakwah para Nabi dan Rosul. Dan untuk menepis seluruh kerancuan ini, di sini saya akan terangkan dua permasalah:
Pertama: Baroo’ kepada thoghut dan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa serta kufur kepadanya. Hal ini tidak boleh diakhirkan atau diundur… bahkan ini harus ditunjukkan dan ditampakkan sejak langkah pertama.
Kedua: Baroo’ kepada orang-orang musyrik ketika mereka tetap bersikukuh dalam kebatilan mereka. Dan berikut ini perincian dan penjelasannya:
Masalah pertama: yaitu kufur kepada thoghut yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa. Baik thoghut itu berupa berhala dari batu atau matahari atau bulan atau kuburan atau pohon atau hukum dan undang-undang buat manusia… millah Ibrohim dan dakwah para Nabi dan Rosul menuntut untuk menunjukkan sikap kufur kepada semua sesembahan tersebut, serta menampakkan permusuhan dan kebencian kepadanya, membodoh-bodohkannya, merendahkan nilainya, dan membongkar kepalsuan, kekurangan serta cacatnya sejak langkah pertama. Dan beginilah langkah para Nabi ketika memulai dakwah kepada kaum mereka, yaitu mengatakan:
اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت
Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut. (An Nahl: 36)
Termasuk dalam hal ini adalah firman Alloh ta’aalaa yang menerangkan tentang millah Ibrohim AS.
قال أفرأيتم ما كنتم تعبدون أنتم وآباؤكم الأقدمون  فإنهم عدو لي إلا رب العالمين
Ibrohim mengatakan: Tahukah kalian apa yang kalian ibadahi. Kalian dan juga bapak-bapak kalian terdahulu. Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku kecuali Robb semesta alam. (Asy-Syuuroo: 75-77)
Dan firman Alloh ta’aalaa yang terdapat dalam surat Al An’aam yang berbunyi:
قال يا قوم إني بريء مما تشركون
Ia mengatakan: Wahai kaumku sesungguhnya aku baroo’ terhadap apa yang kalian sekutukan. (Al An’aam: 78)
Dan firmanNya SWT:
وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين
Dan ingatlah ketika Ibrohim mengatakan kepada bapak dan kaumnya: Sesungguhnya aku baroo’ dari apa yang kalian ibadahi selain yang menciptakanku, sesungguhnya DIA akan memberi petunjuk kepadaku. (Az Zukhruf: 26-27)
Dan sebagaimana firmanNya mengenai kaumnya Ibrohim:     
قالوا من فعل هذا بآلهتنا إنه لمن الظالمين قالوا سمعنا فتى يذكرهم يقال له إبراهيم
Mereka mengatakan: Siapa yang melakukan ini terhadap ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) kita, sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang dholim. Mereka mengatakan: Kami mendengar ada seorang pemuda yang menyebut mereka (ilaah-ilaah kita), ia dipanggil dengan nama Ibrohim. (Al Ambiyaa’: 59-60)
Para ahli tafsir mengatakan bahwa:
يذكرهم
Menyebut mereka (ilaah-ilaah kita).
Maksudnya adalah mencela, mengejek dan menghina mereka. Al Qur’an dan Sunnah penuh dengan dalil-dalil yang menunjukkan tentang masalah ini. Dan cukuplah bagi kita apa yang dilakukan oleh Nabi SAW di Mekah sebagai petunjuk. Bagaimana beliau membodoh-bodohkan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) orang-orang Quroisy, dan beliau menunjukkan sikap baroo’ beliau terhadap ilaah-ilaah tersebut, serta kufur terhadapnya sampai-sampai mereka menyebut beliau sebagai ash soobi’iy.
Dan jika engkau ingin mempertegas dan meyakinkan mengenai masalah ini silahkan kaji dan renungkan ayat-ayat Al Qur’an yang makkiy (turun sebelum hijroh ke Madinah). Yang mana setiap kali turun kepada Nabi SAW beberapa ayat saja akan segera tersebar ke timur, ke barat, ke utara dan ke selatan. Dan menjadi bahan pembicaraan di pasar-pasar, di majlis-majlis dan di pertemuan-pertemuan.. dan ayat-ayat tersebut berbicara kepada orang-orang Arab dengan bahasa mereka yang dapat dipahami.. dengan jelas dan gamblang ayat-ayat tersebut membodoh-bodohkan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka, dan yang paling utama adalah laata, uzzaa dan yang ketiga adalah manaat, yang merupakan ilaah-ilaah terbesar pada zaman itu. Dan ayat-ayat itu menyatakan baroo’ terhadap ilaah-ilaah tersebut, tidak menyetujui atau meridloinya dan tidak pula menyembunyikan sedikitpun dari sikap-sikap semua itu…. Karena beliau hanyalah seorang pemberi peringatan.
Maka orang-orang yang menempatkan diri di bidang dakwah pada zaman sekarang ini, mereka perlu untuk merenungkan ayat-ayat tersebut baik-baik, dan banyak mengevaluasi diri …karena gerakan dakwah yang ingin berjuang untuk memenangkan diin Alloh ta’aalaa namun dia melemparkan prinsip yang pokok ini kebelakang punggungnya, tidak akan mungkin berjalan sesuai dengan manhaj para Nabi dan Rosul… dan lihatlah pada zaman ini kita menghadapi tersebarnya syirik berupa berhukum kepada undang-undang dan hukum buatan manusia. Maka dakwah ini harus, dan tidak boleh tidak, untuk meneladani NabiNya dalam mengikuti millah Ibrohim dengan cara membodoh-bodohkan undang-undang tersebut, menyebutkan dan mengungkapkan kekurangan-kekurangannya kepada menusia, menyatakan permusuhan kepadanya serta mendakwahkan itu semua kepada manusia … kalau tidak, lalu kapan kebenaran ini akan nampak, dan bagaimana manusia dapat memahami diin mereka dengan benar, serta dapat membedakan antara yang haq dan yang batil dan antara musuh dan waliy (kawan)… dan mungkin mayoritas orang berdalih dengan kemaslahatan dakwah dan untuk menghidari fitnah (bencana/kerusakan) … padahal fitnah apakah yang lebih besar dari pada menutup-nutupi tauhid dan menipu manusia tentang diin mereka. Dan kemaslahatan apakah yang lebih besar dari pada menegakkan millah Ibrohim serta menunjukkan sikap berwalaa’ kepada diin Alloh ta’aalaa dan permusuhan kepada thoghut yang diibadahi dan ditaati selain Alloh ta’aalaa. Dan apabila kaum muslimin tidak mendapatkan ujian dalam rangka melaksanakan itu semua, juga apabila pengorbanan itu tidak dipersembahkan dalam rangka menjalankan itu semua, lalu untuk apa ujian itu akan terjadi… maka kufur terhadap thoghut itu adalah kewajiban bagi setiap muslim, yang merupakan setengah dari syahaadatul Islaam… dan mengumumkan hal itu, menunjukkan serta menampakkannya adalah kewajiban besar juga yang harus disampaikan secara terang-terangan oleh seluruh jamaah-jamaah Islam atau minimal oleh sekelompok orang dari setiap jamaah, sehingga hal ini menjadi terkenal dan tersebar, serta menjadi simbol dan ciri khas bagi gerakan-gerakan dakwah tersebut, sebagaimana Nabi SAW dulu. Bukan hanya ketika berkuasa saja, akan tetapi juga ketika dalam keadaan lemah dan tertindas. Sehingga beliau dituding, diwaspadai dan dikatakan telah memusuhi ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) dan lain-lain… dan sungguh kami heran, kemaslahatan dakwah apakah yang ditangisi oleh para da’i (juru dakwah) tersebut. Dan diin apakah yang ingin mereka tegakkan serta perjuangkan, sedangkan rata-rata mereka gemar memuji undang-undang buatan manusia --- dan sungguh ini adalah musibah --- dan sebagian mereka menyanjung dan memberikan kesaksian atas kesuciannya. Dan banyak di antara mereka yang bersumpah untuk menghormati dan mematuhi butir-butir dan ketentuan-ketentuannya. Yang bertolak belakang dengan prinsip dan jalan yang seharusnya ditempuh. Maka sebagai ganti dari menampakkan dan menunjukkan permusuhan serta kekufuran terhadapnya, mereka menunjukkan sikap walaa' dan ridlo kepadanya. Maka apakah orang-orang semacam mereka ini bisa dikatakan sedang menyebarkan tauhid dan menegakkan diin?! Hanya kepada Alloh lah kita mengadu…
Permasalah menampakkan dan menunjukkan (baroo’ dan permusuhan terhadap ilaah-ilaah selain Alloh dan thoghut) ini, lain dengan permasalahan mengkafirkan penguasa yang bersikukuh menjalankan hukum selain syariat Ar Rohmaan (Alloh yang Maha Pengasih) … karena permasalahan ini berkaitan dengan undang-undang atau syariat atau hukum yang berlaku, dihormati dan dilaksanakan di kalangan manusia.
Masalah kedua: yaitu baroo’ kepada orang-orang musyrik serta kufur terhadap mereka. Juga menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada mereka.
Al ‘Allaamah Ibnul Qoyyim rh dalam buku Ighootsatul Lahfaan mengatakan: “Dan tidak ada orang yang selamat dari syirik akbar ini kecuali orang yang memurnikan tauhidnya kepada Alloh ta’aalaa dan memusuhi orang-orang musyrik karena Alloh ta’aalaa, dan beribadah kepada Alloh ta’aalaa dengan cara membenci mereka.” Dan ia (Ibnul Qoyyim) mengatakan bahwa permasalahan ini --- yaitu masalah bersikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik --- dikatakan oleh Ibnu Taimiyah lebih utama dari pada permasalahan yang pertama di atas (yaitu baroo’ terhadap sesembahan-sesembahan mereka).
Dan Syaikh Hamad bin ‘Atiiq rh dalam buku Sabiilun Najaat Wal Fikaak mengatakan mengenai ayat:
إنا برءاؤا منكم ومما تعبدون من دون الله
Sesungguhnya kami baroo’ kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi selain Alloh. (Al Mumtahanah: 4)
Ia mengatakan: “Dan di sini ada poin penting yaitu bahwasanya Alloh ta’aalaa lebih mendahulukan sikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik dan orang-orang yang beribadah kepada selain Alloh ta’aalaa dari pada sikap baroo’ terhadap berhala-berhala yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa, kerena yang pertama itu lebih penting dari pada yang kedua. Sebab sesungguhnya jika seseorang baroo’ terhadap berhala namun tidak baroo’ terhadap orang-orang yang beribadah kepadanya berarti dia belum melaksanakan kewajibannya. Dan adapun jika ia telah baroo’ kepada orang-orang musyrik maka pasti baroo’nya sudah mencakup baroo’ terhadap sesembahan-sesembahan mereka. Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
وأعتزلكم وما تدعون من دون الله
Dan aku tinggalkan kalian dan apa-apa yang kalian ibadahi selain Alloh. .. (Maryam: 48)
Dalam ayat ini lebih didahulukan meninggalkan mereka dari pada meninggalkan apa yang mereka sembah selain Alloh ta’aalaa. Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
فلما اعتزلهم وما يعبدون من دون الله
Maka ketika ia meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh… (Maryam: 49)
Dan firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
وإذ اعتزلتموهم وما يعبدون من دون الله
Dan ingatlah ketika kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh. (Al Kahfi: 16)
Maka renungkanlah poin ini niscaya akan terbuka bagimu sebuah pintu menuju permusuhan dengan musuh-musuh Alloh ta’aalaa. Karena betapa banyak orang yang tidak berbuat syirik akan tetapi ia tidak memusuhi orang-orang yang berbuat syirik, sehingga ia tidak bisa dikatakan sebagai orang muslim karena dia tidak melaksanakan diin seluruh Rosul.”[1]
Dan Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan  dalam sebuah risalah yang terdapat dalam buku Ad Duror As Sunniyah mengatakan: “Dan seseorang kadang terbebas dari kesyirikan dan mencintai tauhid akan tetapi dia melakukan kekurangan dengan tidak bersikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik, serta tidak berwalaa’ dan membela ahlut tauhiid. Maka berarti dia telah mengikuti hawa nafsunya dan terjerumus ke dalam cabang kesyirikan yang merobohkan diinnya dan apa yang dia bangun dan meninggalkan tauhid baik pokoknya maupun cabangnya yang mengakibatkan iman yang ia ridloi tidak lurus.  Karena dia tidak mencintai dan tidak membenci karena Alloh ta’aalaa, serta tidak bermusuhan dan berwalaa’ atas dasar keagungan Dzat yang telah menciptakannya dengan sempurna. Dan semua (pemahaman) ini di ambil dari laa ilaaha illallooh.” (Dari juz Jihad, hal. 681)
Dan dalam buku yang sama hal. 842 tapi dalam risalah yang berbeda ia juga mengatakan: “Dan ibadah kepada Alloh ta’aalaa yang paling utama adalah membenci, marah, memusuhi dan jihad terhadap musuh-musuh Alloh ta’aalaa yang musyrik. Dengan ini seseorang dapat selamat dari berwalaa’ kepada selain orang-orang beriman. Dan jika dia tidak melakukannya berarti dia telah berwalaa’ kepada mereka sesuai apa yang tidak ia lakukan itu. Maka waspadalah terhadap hal-hal yang dapat merobohkan Islam dan mencabut akarnya.”
Dan Sulaimaan bin Samhaan mengatakan:
يوال ولم يبغض ولم يتجنب
وليس على نهج قويم معرب
فمن لم يعاد المشركين ولم
فليس على منهاج سنة أحمد
maka barangsiapa tidak memusuhi orang-orang musyrik dan tidak ..
berwalaa’ atau membenci atau memusuhi …
maka dia tidak berada di atas manhaj sunnah Ahmad (Nabi Muhammad)..
dan dia tidak berada di atas jalan yang lurus yang diturunkan di Arab..
Dan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rh mengatakan: “Seorang muslim harus menyatakan bahwa dirinya adalah termasuk kelompok orang beriman, sehingga ia menguatkan kelompok tersebut dan kelompok tersebut menguatkan dirinya, serta menggentarkan thoghut yang mana mereka tidak akan memusuhinya dengan keras sampai dia menyatakan permusuhannya tersebut kepada mereka dan bahwasanya dia termasuk kelompok yang memerangi mereka.” (dari Majmuu’atut Tauhiid)
Syaikh Husain dan Syaikh ‘Abdulloh, keduanya anak dari Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, keduanya ditanya mengenai orang yang masuk Islam dan dia mencintai Islam dan para pemeluknya, akan tetapi dia tidak memusuhi orang-orang musyrik atau dia memusuhi mereka tapi tidak mengkafirkan mereka, maka di antara isi jawaban keduanya berbunyi: “Barangsiapa mengatakan; Saya tidak memusuhi orang-orang musyrik, atau memusuhi mereka tapi tidak mengkafirkan mereka, maka dia bukan orang muslim. Dan dia termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Alloh ta’aalaa dalam firmanNya yang berbunyi:
ويقولون نؤمن ببعض ونكفر ببعض ويريدون أن يتخذوا بين ذلك سبيلا أولئك هم الكافرون حقا وأعتدنا للكافرين عذابا مهينا
Dan mereka mengatakan; Kami beriman dengan sebagian kitab dan kafir dengan sebagian yang lain, dan mereka hendak menempuh jalan antara hal itu. Mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar kafir. Dan Kami telah siapkan bagi orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (An Nisaa’: 151)
(Dinukil dari Ad Duror).[2]
Sulaimaan bin Samhaan mengatakan:
ووال الذي والاه من كل مهتد
وأبغض لبغض الله أهل التمرد
كذا البرا من كل غاو ومعتد
فعاد الذي عادى لدين محمد
وأحب لحب الله من كان مؤمنا
وما الدين إلا الحب والبغض والولا
maka musuhilah orang-orang yang memusuhi diin Muhammad..
dan berwalaa’lah kepada orang-orang yang berwalaa’ kepadanya dari kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk..
dan cintailah orang yang beriman atas dasar cinta kepada Alloh ta’aalaa ..
dan bencilah orang yang membangkang atas dasar benci karena Alloh..
dan diin itu tidak lain adalah, cinta, benci dan walaa’..
begitu pula baroo’ kepada setiap orang yang menyeleweng dan melampaui batas..
Ia juga mengatakan:
لعاديت من بالله ويحك يكفر
ولما تهاجيهم وللكفر تنصـر
ولكن بأشراط هناك تذكـر
بذا جاءنا النص الصحيح المقرر
وتضليلهم فيما أتوه وأظهروا
وتدعوهموا سرا لذاك وتجهر
وملة إبراهيم لوكنت تشعر
نعم لو صدقت الله فيما زعمـته
وواليت أهل الحق سرا وجهـرة
فما كل من قد قال ما قلت مسلم
مباينة الكفار في كل موطـن
وتكفيرهم جهرا و تسفيه رأيهم
وتصدع بالتوحيد بين ظهورهـم
فهذا هو الدين الحنيفي والهـدى
ya, kalau pengakuanmu kepada Alloh itu benar-benar tulus..
tentu engkau memusuhi orang yang kafir kepada Alloh..
dan tentu engkau berwalaa’ kepada ahlul haq baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan..
dan tentu engkau tidak membenci mereka, dan tentu engkau tidak membela kekafiran..
karena tidak semua orang yang mengatakan sebagaimana yang engkau katakan berarti ia muslim..
akan tetapi ia harus memenuhi syarat-syarat yang ada..
yaitu harus berseberangan dengan orang-orang kafir di setiap tempat..
dalam hal ini telah datang kepada kita nash yang shohiih..
dan mengkafirkan mereka secara terang-terangan serta membodoh-bodohkan akal mereka..
dan menyesatkan apa yang mereka kerjakan serta apa yang mereka tunjukkan..
dan menyatakan tauhid dengan terang-terangan di hadapan mereka..
dan engkau dakwahkan hal itu kepada mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan..
inilah diin yang haniif (lurus), kebenaran..
dan millah Ibrohim jika engkau menyadari..
Tentu tidak kami katakan bahwa menunjukkan baroo’ dan permusuhan ini dilakukan kepada semua orang musyrik sekalipun kepada orang-orang mu-allaf (yang ingin dijinakkan hatinya), atau kepada orang-orang yang menunjukkan kecondongannya untuk menerima Islam dan tidak menunjukkan permusuhan kepada diin Alloh ta’aalaa. Meskipun baroo’ dan permusuhan terhadap semua orang musyrik di dalam hati itu wajib ada, sampai orang musyrik tersebut membersihkan diri dari kesyirikannya. Namun menampakkan, menunjukkan dan menyatakannya secara terang-terangan kepada orang-orang kafir seperti mereka ini lain permasalahannya. Bahkan kepada orang-orang yang sombong dan dholim sekalipun, untuk pertama kali mereka didakwahi agar taat kepada Alloh ta’aalaa dengan cara yang hikmah (bijaksana) dan mau’idhoh hasanah (nasehat yang baik). Jika mereka menerima maka mereka adalah ikhwan-ikhwan kita yang harus kita cintai sesuai dengan ketaatan mereka kepada Alloh ta’aalaa. Hak mereka sama dengan hak kita dan kewajiban mereka sama dengan kewajiban kita. Tapi jika mereka menolak padahal telah diterangkan secara jelas, mereka sombong dan tetap bersikukuh dengan kebatilan dan kesyirikan mereka, dan mereka berdiri dalam barisan yang memusuhi diin Alloh ta’aalaa, maka tidak ada lagi lemah lembut dan mudaahanah (kompromi) dengan mereka… namun kewajiban kita ketika itu adalah menunjukkan dan menampakkan baroo’ kepada mereka… dan di sini harus dibedakan antara keinginan untuk memberi hidaayah kepada orang-orang musyrik dan kafir, berusaha merekrut orang untuk menjadi pembela Islam, lemah lembut dalam penyampaian, hikmah dan mau’idhoh hasanah dan antara permasalahan cinta, benci, walaa’ dan bermusuhan atas dasar diin Alloh ta’aalaa. Karena banyak orang yang mencampur adukkan masalah ini sehingga mereka merasa rancu dengan banyak nash, seperti nash yang berbunyi:
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون
Ya Alloh, berilah petunjuk kaumku karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui.
Dan nash-nash yang lain.
Dan Ibrohim telah baroo’ kepada orang yang paling dekat dengannya ketika ternyata orang yang paling dekat tersebut bersikukuh dengan kesyirikan dan kekafirannya. Alloh ta’aalaa berfirman tentang beliau:
فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه
Maka ketika jelas baginya bahwasanya dia (yaitu bapaknya) itu musuh Alloh iapun baroo’ kepadanya. (At Taubah: 114)
Hal itu beliau lakukan setelah beliau mendakwahinya dengan hikmah dan mau’idhoh hasanah. Engkau dapatkan beliau mengatakan kepada bapaknya:
يا أبت إني قد جاءني من العلم
Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu.. (Maryam: 43)
يا أبت إني أخاف أن يمسك عذاب من الرحمن
Wahai bapakku sesungguhnya aku takut jika engkau tersentuh siksaan dari Ar Rohmaan.. (Maryam: 45)
Dan demikian pula Musa dengan Fir’aun... setelah Alloh ta’aalaa mengutusnya dan berfirman:
فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى
Maka katakanlah kepadanya dengan perkataan yang lembut supaya dia mengambil pelajaran atau merasa takut..(Toohaa: 44)
Maka beliaupun memulai dengan kata-kata yang lembut mengikuti perintah Alloh ta’aalaa. Beliau mengatakan:
هل لك إلى أن تزكى وأهديك إلى ربك فتخشى
Apakah kamu mau mensucikan diri dan saya tunjukkan kamu kepada Robb mu sehingga kamu takut kepadaNya..
Lalu beliau menunjukkan ayat-ayat dan bukti-bukti (mu’jizat)… lalu ketika Fir’aun menunjukkan pendustaan dan penolakan serta bersikukuh dengan kebatilan, maka Musapun berkata kepadanya, sebagaimana yang Alloh ta’aalaa ceritakan:
لقد علمت ما أنزل هؤلاء إلا رب السماوات  الأرض بصائر وإني لأظنك يافرعون مثبورا
Sungguh kamu telah mengetahui mereka itu, kecuali Robb langit dan bumi, tidaklah menurunkan keterangan-keterangan dan sesungguhnya aku menyangkamu sebagai orang yang akan binasa wahai fir’aun. (Al Isroo’:102)
Bahkan beliau mendo’akan kecelakaan untuk mereka dengan doa yang berbunyi:
ربنا إنك آتيت فرعون وملأه زينة وأموالا في الحياة الدنيا ربنا ليضلوا عن سبيلك ربنا اطمس على أموالهم واشدد على قلوبهم فلا يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم
Wahai Robb kami sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan kaumnya berupa perhiasan dan harta di dalam kehidupan dunia ini. Wahai Robb kami, hancurkanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksa yang pedih. (Yuunus: 88)
Oleh karena itu orang-orang yang mendengung-dengungkan nash-nash tentang kelemah-lembutan, kesantunan dan kemudahan secara lepas, dan tidak memahaminya sebagaimana mestinya serta meletakkannya tidak pada tempatnya, hendaknya mereka banyak merenungkan dan memikirkan masalah ini, serta memahaminya dengan baik.. jika mereka memang benar-benar tulus ikhlas…
Dan setelah itu hendaknya mereka memahami dengan baik, bahwasanya barangsiapa yang telah dinasehati dengan berbagai macam cara dan yang kebanyakan menggunakan cara-cara yang lembut dan santun, baik melalui surat atau buku atau secara langsung dan berhadap-hadapan, yang dilakukan oleh para da’i (juru dakwah), dan telah dijelaskan kepadanya bahwasanya berhukum dengan selain apa yang diturunkan Alloh ta’aalaa itu kafir… dan dia telah memahami bahwasanya dia tidak boleh memutuskan perkara dengan selain syariat Alloh ta’aalaa … akan tetapi meskipun demikian dia tetap bersikukuh dan menyombongkan diri… meskipun secara dhohir di berbagai kesempatan dia tertawa dihadapan orang-orang yang malang itu dengan memberikan janji-janji kosong lagi dusta dan dengan kata-kata manis serta alasan-alasan yang lemah dan palsu…sedangkan perbuatannya mendustakan ucapannya. Hal itu nampak dari sikap dia yang membiarkan dan tinggal diam terhadap tumbuhnya kekafiran dan kerusakan di dalam negri dan di tengah-tengah manusia dari hari ke hari. Dan dia bersikap keras terhadap para da’i (juru dakwah) dan orang-orang yang beriman, dan menekan mush-lihiin (para aktifis pembaharuan / reformer) setelah sebelumnya senantiasa mengawasi mereka dengan para aparat dari intel dan kepolisian… dan dalam waktu yang sama ia memberikan keleluasaan kepada semua orang yang memerangi diin Alloh ta’aalaa, serta memberikan kelonggaran kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan memberikan kemudahan terhadap sarana-sarana yang merusak kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa bahkan menyediakan media-media massa untuk menyiarkan kerusakan dan penyelewengan mereka. Serta mengeluarkan undang-undang dan peraturan-peraturan untuk menghukum setiap orang yang menyerang El Yaasiq gaya barunya yang merupakan kesyirikan, atau orang yang menyatakan kekufuran dan baroo’nya terhadap undang-undang tersebut atau menghinanya atau menerangkan kebatilannya kepada manusia.. dan dia bersikukuh untuk menetapkannya sebagai sandaran hukum yang menjadi pemutus perkara diantara manusia dalam masalah darah (nyawa), harta dan sex (perkawinan) mereka, meskipun hukum tersebut dipenuhi dengan kufrun bawwaah (kekafiran yang nyata).. dan dia tidak mau tunduk dengan syariat Alloh ta’aalaa, dan dia tidak mau menjadikan syariat tersebut sebagai landasan hukum padahal dia mengetahui hal itu merupakan kewajiban dan yang menjadi tuntutan mush-lihiin (para aktifis pembaharuan / reformer)… dengan orang yang semacam ini kita  tidak boleh bermudaahanah (kompromi) atau berdamai atau menunjukkan sikap-sikap yang baik atau menghormatinya dengan gelar-gelar yang ia miliki atau mengucapkan selamat pada hari-hari besar  dan pada momen-momen tertentu atau menunjukkan walaa’ kepadanya dan kepada pemerintahannya… namun tidak dikatakan kepadanya kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya kepada kaum mereka, yaitu; Sesungguhnya kami baroo’ terhadap kamu, terhadap undang-undangmu dan terhadap hukummu yang merupakan kesyirikan, dan juga terhadap pemerintahanmu yang kafir.. kami kufur (ingkar) terhadap kalian.. dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian kembali kepada Alloh ta’aalaa dan tunduk serta patuh kepada syariatNya semata.. dan juga termasuk dalam hal ini adalah mengingatkan orang lain agar tidak berwalaa’, taat dan merasa tenang dengan mereka, dan agar tidak memperbanyak jumlah mereka dengan cara menjadi pegawai-pegawai mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang dapat membantu kebatilan mereka atau memperkokoh pemerintahan mereka, dan yang berfungsi menjaga atau melaksanakan undang-undang mereka yang batil seperti menjadi tentara, polisi, intel dan lain-lain…
Dan sungguh sikap salaf terhadap para penguasa mereka pada zaman mereka --- yang mana para penguasa tersebut sama sekali tidak dapat disamakan dengan para thoghut jaman sekarang dan orang-orang yang semacam dengan mereka --- adalah sikap yang tegas, jelas dan bersih.. dan dimanakah posisi para da’i (juru dakwah) pada zaman kita sekarang ini jika dibandingkan dengan sikap para salaf tersebut… padahal para da’i tersebut sangat terkenal dan para pengikut mereka bertepuk tangan untuk mereka… dan padahal para salaf tersebut bukanlah lulusan dari fakultas-fakultas politik atau hukum. Dan mereka juga tidak membaca surat-surat kabar atau majalah-majalah yang busuk dengan dalih untuk memahami tipu daya musuh… namun demikian mereka lari dari penguasa dan pintu-pintunya. Sedangkan penguasa tersebut mencari dan membujuk mereka dengan harta dan yang lainnya. Adapun orang-orang yang mengaku mengikuti salaf pada hari ini, dari kalangan orang-orang yang diin mereka dipermainkan oleh syetan, mereka mencari keuntungan dunia mereka dengan cara merusak diin mereka. Mereka mendatangi dan mencari-cari pintu penguasa sedangkan penguasa menghinakan mereka dan berpaling dari mereka… dahulu salaf melarang masuk ke istana para penguasa yang dholim, meskipun untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar sekalipun, karena khawatir akan tertipu dengan mereka sehingga ia akan bermudaahanah (kompromi) dengan mereka atau berbaik-baikan dengan mereka karena mereka memuliakannya, atau ia akan diam dan membiarkan sebagian kebatilan mereka. Dan para salaf dahulu memandang bahwasanya menjauhi dan mengasingkan diri dari penguasa itu lebih baik, sebagai bentuk dari baroo’ dan ingkar mereka terhadap tindakan-tindakan penguasa tersebut.. dan coba dengarkan apa yang dikatakan oleh Sufyaan Ats Tsauriy dalam suratnya kepada ‘Ibaad bin ‘Ibaad yang berbunyi: “Janganlah kamu mendekati atau bergaul dengan para penguasa sedikitpun. Dan jangan sampai ada yang mengatakan kepadamu;(Lakukan saja) supaya kamu dapat membela atau mempertahankan orang yang didholimi atau mengembalikan hak orang yang diambil secara dholim. Karena ini adalah tipu daya iblis...yang dijadikan tangga (dalih) oleh para quroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat.” (Dari Siyarul A’laam An Nubalaa’ XIII/586 dan Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadl-lihi I/179) Lihatlah, Sufyaan Ats Stauriy rh mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh para da’i hari ini sebagai kemaslahatan dakwah adalah “tipu daya iblis”. Dan beliau tidak mengatakan kepada orang yang melakukannya sebagaimana yang dikatakan oleh banyak da’i zaman sekarang yang menghabiskan umur mereka untuk mengejar kemaslahatan dakwah dan membela diin di sisi musuh-musuh dan orang-orang yang memerangi diin: “Tidak begitu wahai saudaraku!! Pertahankanlah posisimu dan dekatilah mereka supaya kamu dapat meraih kedudukan atau mendapatkan kursi di kementerian atau di parlemen, dan supaya kamu dapat meringankan kedholiman atau dapat memberikan manfaat kepada saudara-saudaramu. Jangan kamu biarkan jabatan ini dipegang oleh orang-orang yang banyak maksiyat dan orang-orang yang jahat sehingga mereka memanfaatkannya dan… dan…” Namun beliau menyebut hal ini sebagai tangga (dalih) para qurroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat untuk meraih kesenangan dunia. Dan jika pada zaman mereka saja seperti ini, lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang. Kami memohon kepada Alloh ta’aalaa kesejahteraan dan kami berlindung kepada Alloh ta’aalaa dari kejahatan orang-orang zaman sekarang dan dari kejahatan tipu daya mereka. Semoga Alloh ta’aalaa merahmati orang yang mengatakan:
فيه الشقاء وكل كفــر دان
من دون نص جاء في القـرآن
حب الخلاف ورشوة السلطان
قوم تراهم مهطعين لمجلـس
بل فيه قانون النصارى حاكما
تبا لكم من معشر قد أشـربوا
sebuah kaum kau lihat mereka bergegas-gegas menuju majlis…
yang di dalamnya terdapat kesengsaraan dan segala kekafiran yang hina…
bahkan di dalamnya terdapat undang-undang nasrani berkuasa…
dan bukan nash yang datang dari Al Qur’an…
sungguh celaka kalian wahai sekumpulan manusia yang telah terbuai dengan…
cinta perselisihan dan menyuap penguasa…
Dan lihatlah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, beliau sering mengulangi perkataan Sufyaan Ats Tsauriy yang berbunyi: “Barangsiapa bergaul dengan pelaku bid’ah, dia tidak akan selamat dari salah satu dari tiga hal:
-          Orang lain akan terkecoh dengan perbuatannya yang bergaul dengan pelaku bid’ah tersebut. Sedangkan dalam hadits disebutkan:
من سن في الإسلام سنة  حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده، من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة  سيئة كان عليه وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
Barangsiapa membuat sebuah kebiasaan baik dalam Islam maka dia mendapatkan pahala amalannya dan amalan orang-orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat sebuah kebiasaan yang jelek dalam Islam maka dia mendapatkan dosa dari perbuatannya dan perbuatan orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (Hadits ini diriwayatkan Muslim)
-          Atau hatinya akan menganggapnya baik, sehingga ia akan tergelincir, lalu dengan itu Alloh akan memasukkannya ke dalam naar (neraka).
-          Atau dia akan mengatakan: Demi Alloh saya tidak akan menghiraukan apa yang mereka katakan dan saya yakin bahwa diriku akan tetap teguh. Padahal barang siapa merasa aman dari hal-hal yang merusak diinnya sekejap mata saja maka Alloh ta’aalaa akan merampas diinnya darinya.” (Dari Ad Duror As Sunniyah dan lain-lain)
Jika bergaul dengan pelaku bid’ah yang kebid’ahannya tidak sampai mengakibatkan kafir --- sebagaimana yang dipahami dari berbagai perkataan mereka --- saja mereka katakan seperti ini… lalu apa kiranya yang akan mereka katakan mengenai bergaul dengan orang-orang murtad dari kalangan penyembah undang-undang dan orang-orang musyrik lainnya. Dan coba perhatikan perkataannya pada poin ke tiga yang berbunyi “sesungguhnya aku yakin bahwa diriku akan tetap teguh” Dan berapa banyak para da’i pada zaman sekarang ini yang berguguran lantaran hal ini. Maka carilah keselamatan dan carilah keselamatan..
Yang jelas bagaimanapun Alloh ta’aalaa telah membantah semua metode yang bengkok tersebut yang para pelakunya berangan-angan bahwa dengannya mereka akan dapat memenangkan diin ini. Maka Alloh ta’aalaa menerangkan bahwasanya tidak ada kemenangan yang dapat diharapkan dan tidak ada kemaslahatan diin sama sekali yang terdapat pada mendekatkan diri kepada orang-orang dholim. Dalam surat Huud yang telah membuat Nabi SAW beruban Alloh ta’aalaa berfirman:
ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون
Dan janganlah kalian rukuun (sedikit condong) kepada orang-orang dholim yang akan menyebabkan kalian disentuh naar (api neraka). Dan tidak ada wali (pelindung) bagi kalian selain Alloh kemudian kalian tidak akan mendapat pertolongan. (Huud: 113)
Maka tidak ada kemenangan bagi diin atau kemaslahatan yang terletak pada berbagai mudaahanah (kompromi) dan jalan-jalan yang menyimpang ini, meskipun orang-orang menyangka demikian… kecuali jika sentuhan naar (api neraka) itu menurut mereka adalah kemaslahatan dakwah … maka sadarlah dari tidurmu dan janganlah kamu terpengaruh oleh setiap orang yang berkicau dan menggonggong.
Para ahli tafsir mengatakan tentang firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
لا تركنوا
Janganlah kalian rukuun.
Ar Rukuun artinya adalah sedikit condong.
Abul ‘Aaliyah berkata: “Dan janganlah kalian condong kepada mereka dengan sepenuhnya dalam mencintai dan lemah-lembut dalam berbicara.”
Dan Sufyaan Ats Tsauriy mengatakan: “Barangsiapa mencairkan tinta atau merautkan pena atau mengambilkan kertas untuk mereka maka dia telah terjerumus dalam larangan tersebut.”
Syaikh Hamad bin ‘Atiiq berkata: “Alloh ta’aalaa mengancam untuk menyentuhkan naar (api neraka) kepada setiap orang yang rukuun (sedikit condong) kepada musuh-musuhNya meskipun hanya dengan berkata lembut.”
Dan Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan --- beliau juga termasuk salah seorang imam dakwah najdiyah salafiyah --- setelah menyitir perkataan para ahli tafsir yang berkenaan dengan makna rukuun di atas, ia mengatakan: “Hal itu karena dosa syirik itu merupakan tingkatan kemaksiatan kepada Alloh ta’aalaa yang paling tinggi. Lalu bagaimana jika selain itu ditambah dengan sesuatu yang lebih buruk lagi, seperti mengolok-olok ayat-ayat Alloh ta’aalaa, mencampakkan hukum-hukum dan perintah-perintahNya, dan menyebut apa yang menyelisihi dan bertentangan denganNya sebagai keadilan, sedangkan Alloh ta’aalaa, RosulNya dan orang-orang beriman mengetahui bahwa itu semua adalah kekafiran, kebodohan dan kesesatan. Barangsiapa memiliki sedikit saja harga diri dan hatinya masih ada kehidupan tentu dia akan tersinggung karena Alloh ta’aalaa, Rosul, kitab dan diinNya, dan tentu dia akan mengingkarinya dengan keras pada setiap pertemuan dan setiap majlis. Dan ini merupakan jihad yang mana tanpa dengannya tidak akan terjadi jihad melawan musuh. Maka tunjukkanlah diin Alloh ta’aalaa dan senantiasalah saling mengingatkan tentangnya, celalah apa yang menyelisihinya dan baroo’ kepadanya dan kepada pelakunya. Dan perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan kepada kerusakan yang sangat besar ini. Dan perhatikanlah dalil-dalil syar’iy yang menutup sarana-sarana tersebut. Kebanyakan manusia meskipun dia telah baroo’ kepadanya dan kepada pelakunya namun mereka menjadi bala tentera pemimpi mereka, ramah kepada pemimpin tersebut dan menjaga kekuasaannya. Hanya kepada Alloh ta’aalaa sajalah kita memohon pertolongan.” (Dari Ad Duror, juz Jihad, hal. 161) Demi Alloh, alangkah menakjubkannya beliau ini, seolah-olah ia berbicara mengenai jaman kita sekarang ini.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab mengatakan: ”Alloh…Alloh…Wahai saudara-saudaraku berpegang teguhlah kalian dengan pokok diin kalian. Dan yang mana yang paling utama, pondasi dan kepalanya adalah syahadat laailaaha illallooh. Pahamilah artinya, cintailah ia dan orang-orang yang melaziminya, dan jadikanlah mereka sebagai saudara-saudara kalian meskipun secara nasab (hubungan darah) mereka jauh darimu. Dan kufurlah terhadap thoghut, musuhilah dan bencilah mereka dan bencilah pula orang yang mencintai mereka. Atau debatlah dia kenapa dia tidak mengkafirkan mereka, atau kenapa dia mengatakan; Apa peduliku dengan mereka, atau kenapa dia mengatakan; Alloh ta’aalaa tidak membebaniku untuk mengurusi mereka. Karena orang ini telah membuat kebohongan atas nama Alloh… dan telah berbuat dosa yang nyata. Karena sesungguhnya Alloh ta’aalaa telah memerintahkan kepada setiap muslim agar membeci orang-orang kafir, dan mewajibkannya agar memusuhi dan mengkafirkan mereka serta baroo’ terhadap mereka, meskipun mereka itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudaranya. Oleh karena itu takutlah kepada Alloh dan takutlah kepada Alloh…pegangiah itu semua supaya kalian menjumpai Robb kalian dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (Dari Majmuu’atut Tauhiid)


[1] Yang dimaksud Syaikh di sini adalah --- walloohu a’lam --- ia tidak memusuhi dan tidak membenci mereka baik secara global maupun secara terperinci, sampai meskipun dalam hati. Bahkan sebagai gantinya ia memendam rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka. Orang semacam ini tidak diragukan lagi telah batal imannya dan telah meninggalkan diin seluruh Rosul. Alloh berfirman:
لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله
Kamu tidak akan mendapatkan sebuah kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Alloh dan RosulNya.
[2] Lihat catatan kaki sebelumnya.


Millah Ibrohim bag.2



Penjelasan Tentang Millah Ibrohim


"Tidak bisa dibayangkan ada orang yang memahami dan mengamalkan tauhid namun dia tidak memusuhi orang-orang musyrik. Dan orang yang tidak memusuhi mereka tidak bisa dikatakan dia telah memahami dan mengamalkan tauhid.”
(Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan)


Atas nama Alloh, Dialah yang mencukupiku dan Dia adalah sebaik-baik Penjamin.

PEMBAHASAN PERTAMA:
Penjelasan Tentang Millah Ibrohim

Alloh ta’aalaa berfirman mengenai millah Ibrohim:
ومن يرغب عن ملة إبراهيم إلا من سفه نفسه
Dan tidak ada yang benci terhadap millah Ibrohim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. (Al Baqoroh: 130)
Alloh ta’aalaa juga berfirman kepada NabiNya Muhammad SAW:
ثم أوحينا إليك أن اتبع ملة إبراهيم حنيفا وما كان من المشركين
Kemudian Kami telah wahyukan kepadamu supaya kamu mengikuti millah Ibrohim yang haniif (lurus) dan bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik. (An Nahl: 123)
Demikianlah Alloh ta’aalaa menerangkan manhaj dan jalan kepada kita secara jelas dan gamblang… bahwa jalan yang benar dan manhaj yang lurus itu … adalah millah Ibrohim… tidak ada yang samar dan tidak ada yang rancu padanya. Barang siapa membenci jalan ini dengan alasan untuk kemaslahatan (kepentingan) dakwah atau dengan alasan bahwa jalan ini akan menimbulkan fitnah dan bencana bagi kaum muslimin atau dengan alasan-alasan yang tidak benar lainnya… yang dihembuskan syetan ke dalam jiwa orang-orang yang lemah imannya… maka dia adalah orang yang bodoh, ia tertipu. Ia menyangka bahwa dirinya lebih tahu tentang metode dakwah dari pada Nabi Ibrohim AS yang Alloh ta’aalaa puji dalam firmanNya:
ولقد آتينا إبراهيم رشده
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrohim petunjuk kebenaran. (Al Anbiyaa’: 51)
Dan dalam firmaNya:
ولقد اصطفيناه في الدنيا وإنه في الآخرة لمن الصالحين
Dan telah Kami pilih dia di dunia, dan di akherat dia termasuk orang-orang yang sholih. (Al Baqoroh: 130)
Alloh ta’aalaa memuji dakwahnya dan memerintahkan kepada penutup para Nabi dan Rosul (Nabi Muhammad) agar mengikutinya, dan Alloh ta’aalaa menjadikan kebodohan itu bagi orang yang membenci jalan dan manhajnya. Dan millah Ibrohim itu adalah:
Memurnikan ibadah kepada Alloh ta’aalaa dengan segala pengertiannya yang tercakup dalam makna ibadah.[1]
Dan baroo’ kepada kesyirikan dan kepada pelakunya.
Imam Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rh berkata: “Pokok dan dasar diin Islam itu ada dua:
Pertama: Perintah untuk beribadah kepada Alloh ta’aalaa saja dan tidak ada sekutu bagiNya, dan hasungan untuk melaksanakan perintah tersebut dan saling berwalaa’ (loyal) atas dasar perintah tersebut serta mengkafirkan orang yang meninggalkan perintah tersebut.
Kedua: Peringatan agar menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada Alloh ta’aalaa, dan bersikap keras dalam masalah ini, dan mengkafirkan orang yang melakukannya.”
Inilah tauhid yang didakwahkan oleh para Rosul SAW. Dan ini merupakan makna kalimat laa ilaaha
illallooh, yaitu ikhlas, mentauhidkan dan mengesakan Alloh ta’aalaa dalam beribadah, dan berwalaa’ (loyal) kepada diinNya dan kepada wali-waliNya, dan kufur serta baroo’ kepada segala sesembahan selain Alloh ta’aalaa, dan memusuhi musuh-musuhNya..
Maka ini adalah tauhiid i'tiqoodiy sekaligus tauhiid ‘amaliy.. dan surat Al Ikhlaash merupakan dalil untuk tauhiid i'tiqoodiy sedangkan surat Al Kaafiruun merupakan dalil untuk tauhiid ‘amaliy. Dan dahulu Rosululloh  SAW sering membaca dua surat tersebut dan senantiasa membacanya dalam sholat sunnah fajar dan yang lain … karena sangat pentingnya dua surat tersebut.
Peringatan yang harus disampaikan: Ada orang yang menyangka bahwasanya millah Ibrohim ini dapat terrealisasi pada zaman sekarang dengan cara belajar tauhid dengan memahami tiga pembagian dan macamnya, dengan memahaminya secara teori saja… namun bersikap diam terhadap orang-orang yang melakukan kebatilan dan dengan tanpa menampakkan dan menunjukkan sikap baroo’ (berlepas diri dan memusuhi) kepada kebatilan mereka.
Kepada mereka ini kami katakan: Seandainya millah Ibrohim itu seperti itu tentu beliau tidak dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api. Bahkan seandainya beliau mau bermudaahanah (kompromi, toleransi) dengan mereka, diam terhadap sebagian kebatilan mereka dan tidak membodoh-bodohkan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka, dan tidak menyatakan permusuhannya kepada mereka, lalu mencukupkan diri dengan tauhiid nadhoriy (tauhid teoritis) yang dia pelajari bersama para pengikutnya dan tidak mewujudkannya dalam bentuk al walaa’ (loyalitas), al baroo’, cinta, benci, permusuhan dan hijroon (memisahkan diri) karena Alloh ta’aalaa … seandainya beliau melakukan seperti itu tentu mereka membukakan semua pintu untuk beliau. Bahkan mungkin mereka akan membangunkan sekolahan-sekolahan dan perguruan-perguruan sebagaimana yang terjadi pada zaman sekarang yang di sana dipelajari tauhiid nadhoriy (tauhid teoritis) semacam ini… dan mungkin mereka akan membuatkan padanya spanduk besar yang bertuliskan; Sekolah atau Perguruan Tauhid dan Fakultas Dakwah Dan Ushuulud Diin…. Dan lain-lain… ini semua tidak akan membahayakan mereka dan tidak akan mempengaruhi mereka selama tidak dipraktekkan ke dalam dunia nyata… meskipun universitas-universitas, sekolahan-sekolahan dan fakultas-fakultas tersebut mengeluarkan ribuan gagasan, tesis dan disertasi tentang ikhlas, tauhid dan dakwah….pasti mereka tidak mengingkarinya bahkan mereka akan merestui dan memberikan kepada penulisnya berbagai hadiah, ijazah dan gelar-gelar yang besar, selama tidak mengancam kebatilan dan perbuatan mereka, dan selama mereka hanya sebatas itu.
Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan mengatakan dalam Ad Duror As Sunniyah: “Tidak bisa dibayangkan ada orang yang memahami dan mengamalkan tauhid namun dia tidak memusuhi orang-orang musyrik. Dan orang yang tidak memusuhi mereka tidak bisa dikatakan dia telah memahami dan mengamalkan tauhid.” (Juz Jihad, hal. 167)
Dan demikian pula Rosululloh SAW, seandainya beliau ketika awal-awal tidak membodoh-bodohkan akal orang-orang Quroisy dan tidak mencela ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka, dan seandainya --- dan ini tidak mungkin --- beliau menyebunyikan ayat-ayat yang mencela ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka seperti laata, uzzaa dan manaat…dan demikian pula ayat-ayat yang menerangkan baroo’ terhadap mereka, terhadap diin mereka dan terhadap ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka --- dan betapa banyak ayat-ayat tersebut seperti surat Al Kaafiruun dan yang lainya --- seandainya beliau berbuat seperti itu … dan ini tidak mungkin …  tentu mereka mau bersahabat, memuliakan dan mendekati beliau … dan tentu mereka tidak menaruh kotoran onta ketika beliau sedang sujud, dan tentu beliau tidak mendapat gangguan dari mereka sebagaimana yang dijelaskan dan disebutkan dalam siiroh (sejarah)… dan tentu beliau tidak perlu hijroh, bersusah-payah dan berpenat-penat… dan tentu beliau dan para sahabat dapat duduk-duduk di negeri mereka dengan aman… maka permasalahan berwalaa’ (loyal) kepada diin Alloh ta’aalaa dan para pemeluknya, dan memusuhi kebatilan dan para pelakunya, telah diwajibkan kepada kaum muslimin pada awal-awal dakwah sebelum diwajibkannya sholat, zakat, shoum (puasa) dan haji. Dan inilah yang menyebabkan munculnya siksaan, gangguan dan cobaan, bukan karena yang lain..
Syaikh Hamad bin ‘Atiiq mengatakan dalam salah satu risalahnya, dalam Ad Duror As Sunniyah: “Hendaknya orang yang berakal, berfikir dan orang yang ingin menasehati dirinya sendiri, mencari apa penyebab yang mendorong orang-orang Quroisy mengusir Nabi SAW dan para sahabatnya dari Mekah yang merupakan daerah yang paling mulia. Sesungguhnya telah kita ketahui bersama bahwasanya orang-orang Quroisy tidaklah mengusir Nabi SAW dan para sahabat kecuali setelah mereka mencela diin orang-orang Quroisy dan menyesat-nyesatkan bapak-bapak mereka secara terang-terangan. Mereka menginginkan supaya beliau SAW menghentikan hal itu dan mereka mengancam akan mengusir beliau dan para sahabat beliau. Para sahabatpun mengeluhkan kepada beliau akan kerasnya siksaan orang-orang Quroisy kepada mereka. Maka beliaupun menyuruh mereka untuk bersabar dan meneladani orang-orang sebelum mereka yang mendapatkan siksaan. Dan beliau tidak menyuruh mereka untuk tidak lagi mencela diin orang-orang musyrik dan membodoh-bodohkan akal mereka. Maka beliaupun memilih untuk meninggalkan negeri bersama para sahabat beliau, padahal Mekah adalah tempat yang paling mulia di muka bumi.
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله و اليوم الآخر و ذكرالله كثيرا
Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Rosululloh bagi orang yang mengharap kepada Alloh dan hari akhir, dan banyak mengingat Alloh.
(Dinukil dari Juz Jihad hal. 199)
Demikianlah, sesungguhnya semua thoghut di setiap waktu dan tempat, mereka tidaklah menunjukkan kerelaan kepada Islam atau bermudaahanah (toleransi) kepadanya, dan untuk itu mereka mengadakan konferensi-konferensi dan mengedarkan buku-buku dan majalah-majalah, mendirikan perguruan-perguruan dan universitas-universitas. Kecuali jika diin tersebut picik dan pincang serta terputus kedua sayapnya, yang jauh dari kenyataan dan jauh dari praktek walaa’ kepada orang-orang beriman, baroo’ kepada musuh-musuh diin, serta menunjukkan permusuhan kepada mereka, kepada sesembahan-sesembahan mereka dan manhaj-manhaj mereka yang batil.
Dan sesungguhnya hal ini kami saksikan secara jelas di sebuah negara yang bernama “Daulah Sa’uudiyyah” (Saudi Arabia). Negara ini menipu manusia dengan cara menghasung mereka untuk bertauhid, menerbitkan buku-buku tauhid dan mengijinkan buku-buku tersebut dicetak, bahkan menghasung para ulama’ untuk memerangi kuburan, paham shuufiy, syirik jimat, mantera, pepohonan dan bebatuan… dan lain-lain yang tidak menghkhwatirkan dan membahayakannya atau tidak membahayakan politik luar dan dalam negerinya. Dan selama teuhid yang parsial dan kurang tersebut jauh dari menyinggung penguasa dan singgasana mereka yang kafir tentu mereka akan memberikan sokongan, bantuan dan dorongan … kalau tidak demikian, lalu dimanakah tulisan-tulisan Juhaimaan dan orang-orang yang seperti dia yang penuh dengan pembahasan tauhid itu? Kenapa pemerintah tidak menyokong dan menghasungnya?? Meskipun dalam tulisan-tulisannya tersebut ia tidak mengkafirkan pemerintah Saudi… ataukah karena tauhid yang ia tulis tidak sesuai dengan para thoghut dan hawa nafsu mereka, dan dia berbicara masalah politik dan menerangkan al walaa’ wal baroo’ (loyalitas dan permusuhan), bai’at dan imaaroh (kepemimpinan). Silahkan kaji pembahasan dia dalam Risaalatul Amri Bil Ma’ruuf Wan Nahyi ‘Anil Munkar, hal. 108 sampai 110 dalam Ar Rosaa-ilus Sab’u. Saya lihat ia dalam masalah ini mempunyai pandangan tajam. Semoga Alloh ta’aalaa merahmatinya.
Syaikh Hamad bin ‘Atiiq rh mengatakan dalam bukunya yang berjudul Sabiilun Najaat Wal Fikaak Min Muwaalaatil Murtaddiin Wa Ahlil Isyrook: ”Sesungguhnya banyak orang yang kadang menyangka bahwasanya apabila ia bisa mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan sholat dan tidak dilarang pergi ke masjid berarti dia telah melaksanakan idh-haarud diin (menunjukkan diin), meskipun ia berada di tengah-tengah orang-orang musyrik atau di tempat orang-orang murtad. Dan sungguh dalam hal ini dia telah salah besar.
Dan ketahuilah bahwasanya kekafiran itu bermacam-macam sebanyak mukaffiroot (hal-hal yang menyebabkan kekafiran)nya. Dan setiap kelompok kafir, masing-masing mempunyai kekafiran yang menonjol dikalangan mereka. Dan seorang muslim tidak bisa dikatakan telah melaksanakan idh-haarud diin (menunjukkan diin) sampai dia menyelisihi setiap kekafiran yang menonjol pada masing-masing kelompok tersebut dan menyatakan permusuhan serta baroo’nya terhadapnya..”
Ia juga mengatakan dalam Ad Duror As Sunniyah: “Dan idh-haarud diin adalah: mengkafirkan mereka, menghina diin mereka, mencela mereka, baroo’ terhadap mereka, menjaga diri agar tidak mengasihi mereka dan agar tidak rukuun (sedikit condong) kepada mereka, serta memisahkan diri dari mereka. Dan hanya sekedar bisa melaksanakan sholat itu tidak bisa disebut idh-haarud diin.” (Juz Jihad, hal. 196)
Dan Syaikh Sulaimaan bin Samhaan mengatakan dalam sya’ir ‘Uquudul Jawaahir yang tersusun indah:
بالكفر إذهم معشر كفـار
يا للعقول أما لكم أفكـار
و الحب منه وما هو المعيار
جهرا وتصريحا لهم وجهار
إظهار هذا الدين تصريح لهم
وعداوة تبدو وبغض ظــاهر
هذا وليس القلب كاف بغضه
لكنما المعيار أن تأتي بـــه
Idh-haarud diin adalah menyatakan kepada mereka ..
kekufuran karena mereka adalah orang-orang kafir..
permusuhan yang nampak dan kebencian yang jelas..
wahai orang yang berakal, apakah kalian tidak mempunyai otak ..
demikianlah, dan tidaklah cukup dengan membenci dalam hati..
dan mencintai bagian darinya namun ia bukanlah patokan..
akan tetapi yang menjadi patokan adalah engkau lakukan ..
dengan jelas, terang-terangan dan nyata kepada mereka…
Dan Syaikh Is-haaq bin ‘Abdur Rohmaan mengatakan dalam buku Ad Duror As Sunniyah pada juz Jihad hal. 141: “Dan pendapat orang yang dibutakan matanya oleh Alloh ta’aalaa, yang mengira bahwasanya idh-haarud diin itu adalah tidak dilarangnya untuk melaksanakan ibadah atau untuk belajar, adalah pendapat yang batil. Perkiraannya itu tertolak baik secara akal maupun secera syar’iy. Kalau demikian maka akan senanglah dengan hukum yang batil tersebut, orang-orang yang tinggal di negara-negara nasrani, majusi dan hindu karena di negara-negara mereka ada sholat, adzan dan pengajaran..”
Dan semoga Alloh ta’aalaa merahmati orang yang mengatakan:
وفعل صلاة  والسكوت عن الملا
وما الدين إلا الحب والبغض والولا
يظنون أن الدين لبيك في الفلا
وسالم وخالط من لذا الدين قد قلا
وكذا البرا من كل غاو و آثم
Mereka menyangkan bahwa diin itu adalah mengucapkan labbaika di tanah lapang (melaksanakan haji)..
dan melaksanakan sholat serta diam terhadap manusia..
dan berdamai serta berbaur dengan orang yang membenci diin ini..
padahal diin itu tidak lain adalah cinta, benci dan walaa’...
demikian pula baroo’ terhadap setiap orang yang menyeleweng dan berbuat dosa..
Dan Abul Wafaa’ bin ‘Uqoil rh berkata: “Apabila engkau ingin mengetahui kondisi Islamnya manusia pada suatu masa, jangalah kamu melihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid atau gema labbaika mereka, akan tetapi lihatlah permufakatan mereka dengan musuh-musuh syariat. Maka berlindunglah ke dalam benteng diin, berpeganglah dengan tali Alloh ta’aalaa yang sangat kuat dan bergabunglah dengan wali-waliNya yang beriman. Dan waspadalah terhadap musuh-musuhNya yang menyeleweng. Karena ibadah kepada Alloh ta’aalaa yang paling utama itu adalah membenci orang-orang yang menentang Alloh ta’aalaa dan RosulNya dan jihad terhadapnya dengan tangan, lidah dan hati sesuai dengan kemampuan.” (dari Ad Duror As Sunniyah, juz jihad, hal. 238)
Peringatan kedua: Dan sebaliknya, selain baroo’ kepada kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik… juga; “Berwalaa’ (loyal) kepada diin Alloh ta’aalaa dan wali-waliNya, serta membela, membantu dan setia kepada mereka dan menunjukkan dan menampakkan hal itu.” Sehingga hati bersatu dan barisan merapat. Meskipun kita terkadang bersikap keras terhadap ikhwan-ikhwan yang bertauhid yang menyimpang dari kebenaran, dan meskipun kita terkadang keras dalam memberi nasehat kepada mereka, dan mengkritik jalan mereka yang menyimpang dari jalan para Nabi.. karena seorang muslim dengan muslim lainnya itu sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyah adalah seperti dua belah tangan yang mana salah satunya membasuh yang lain. Dan terkadang untuk menghilangkan kotoran diperlukan sedikit keras yang akibatnya baik. Karena tujuan dibalik itu adalah menjaga keselamatan dan kebersihan kedua tangan tersebut… dan kami sama sekali tidak memperbolehkan untuk baroo’ kepada mereka secara total.. karena seorang muslim itu memiliki hak dari saudara muslim lainnya untuk diberikan walaa’nya, yang tidak boleh terputus kecuali karena murtad dan keluar dari Islam .. dan Alloh ta’aalaa telah mengagungkan hak ini dalam firmanNya:
إلا تفعلوه تكن فتنة  في الأرض  وفساد كبير
Kalau kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al Anfaal: 73)
Sedangkan orang Islam yang menyimpang, disikapi baroo’ hanya kepada kebatilan atau kebid’ahannya dan penyelewengannya, dengan tetap memberikan dasar walaa’ kepadanya.. bukankah anda melihat bahwa hukum-hukum yang ada dalam perang melawan bughoot (pemberontak) dan orang-orang yang seperti mereka… berbeda dengan hukum-hukum yang ada dalam perang melawan orang-orang murtad… dan kami sama sekali tidak akan pernah membuat senang para thoghut selamanya… sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Islam yang rusak timbangan al walaa’ dan al baroo’ mereka di zaman sekarang ini. Mereka berlebihan dalam melakukan baroo’ dan dalam mencaci orang-orang bertauhid yang tidak sependapat dengan mereka, dan dalam mengingatkan orang lain agar berhati-hati terhadap orang-orang bertauhid yang tidak sependapat dengan mereka tersebut dan terhadap banyak kebenaran yang ada pada mereka. Bahkan kadang mereka menulis dalam surat-surat kabar yang busuk yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Bahkan lebih dari itu mereka menghasut orang-orang bodoh dan para penguasa agar memusuhi orang-orang yang bertauhid tersebut dan memusuhi dakwah mereka., dengan melontarkan fitnah-fitnah batil terhadap mereka. Atau menyokong para thoghut dengan fatwa-fatwa yang bertujuan untuk menumpas mereka. Seperti dengan mengatakan bahwa mereka adalah bughoot (pemberontak) dan Khowaarij, atau mereka itu lebih berbahaya terhadap Islam dari pada yahudi dan nasrani, dan lain sebagainya. Dan saya sering melihat ada orang yang senang dengan tertangkapnya orang-orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka ketangan thoghut. Dan mereka mengatakan: “Memang dia pantas menerima itu.” Atau mengatakan: “Bagus, mereka melumpuhkannya.” Atau kata-kata lain yang bisa jadi akan menjerumuskan mereka ke dalam jahannam selama tujuh puluh musim sedangkan mereka tidak menyadari dan tidak menghiraukannya.
Dan ketauhilah bahwasanya diantara ciri-ciri yang paling menonjol dan tugas yang paling penting dalam millah Ibrohim yang kami lihat dilailaikan dan bahkan ditinggalkan dan dimatikan oleh mayoritas da’i (juru dakwah) pada zaman sekarang adalah:
-          menunjukkan sikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik dan sesembahan-sesembahan mereka yang batil.
-          Menyatakan kufur (pengingkaran) kepada mereka, kepada ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka, manhaj-manhaj mereka, undang-undang mereka dan syariat-syariat syirik mereka.
-          Menampakkan permusuhan dan kebencian kepada mereka dan kepada perilaku kafir mereka sampai mereka kembali kepada Alloh ta’aalaa dan meninggalkan semuannya serta mengkufurinya.
Alloh ta’aalaa berfirman:
قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم و الذين معه إذ قالوا لقومهم إنا برءاؤا منكم ومما تعبدون من دون الله كفرنا بكم وبدا بيننا وبينكم العداوة و البغضاء أبدا حتى تؤمنوا بالله وحده
Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka mengatakan kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami baroo’ (berlepas diri dan memusuhi) kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi selain Alloh. Kami kufur (ingkar) kepada kalian dan telah nampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya sampai kalian beriman kepada Alloh semata. (Al Mumtahanah: 4)
Al ‘Allaamah Ibnul Qoyyim mengatakan: “Ketika Alloh ta’aalaa melarang orang-orang beriman untuk berwalaa’ kepada orang-orang kafir hal itu mengandung kosekuensi untuk memusuhi dan baroo’ kepada mereka serta menyatakan permusuhan pada setiap keadaan.” (Dari Badaa-i'ul Fawaa-id III/69)
Dan Syaikh Hamad bin ‘Atiiq rh mengatakan: “Firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:  وبدا (dan telah nampak) maksudnya adalah: ظهر (nampak) dan: بان (jelas). Dan perhatikanlah didahulukannya al ‘adaawah (permusuhan) dari pada al baghdloo’ (kebencian) karena yang pertama lebih utama dari pada yang kedua. Karena sesungguhnya terkadang orang benci kepada orang-orang musyrik namun ia tidak memusuhi mereka (orang-orang musyrik tersebut), sehingga ia belum melaksanakan kewajibannya sampai ia merealisasikan permusuhan dan kebencian. Selain itu permusuhan dan kebencian itu harus nampak jelas dan nyata. Dan ketahuilah meskipun kebencian itu adalah amalan hati, namun kebencian itu tidak ada gunanya sampai nampak tanda-tandanya dan timbul dampak-dampaknya, dan ini tidak akan terrealisasi kecuali dengan permusuhan dan memutuskan hubungan. Maka ketika itulah permusuhan dan kebencian itu nampak.” (Dari Sabiilun Najaat Wal Fikaak Min Muwaalaatil Murtaddiin Wa Ahlil Isyrook)
Dan Syaikh Is-haaq bin ‘Abdur Rohmaan mengatakan: “Dan tidak cukup hanya dengan membenci mereka dengan hati, namun harus dengan menunjukkan permusuhan dan kebencian --- kemudian ia menyitir ayat yang terdapat dalam surat Al Mumtahanah di atas, lalu mengatakan --- maka lihatlah penjelasan yang tidak ada lagi penjelasan yang lebih jelas dari padanya, yaitu Alloh ta’aalaa berfirman:
بدا بيننا
Telah nampak di antara kita.
Maksudnya adalah ظهر (nampak). Inilah yang dimaksud dengan idh-haarud diin. Maka harus dilakukan dengan menyatakan permusuhan dan mengkafirkan mereka dengan terang-terangan serta memutuskan hubungan secara fisik. Sedangkan yang dimaksud dengan العداوة adalah hendaknya berada pada عَدْوَة (tempat yang jauh/ujung) sedangkan lawannya berada pada عَدْوَة (tempat yang jauh/ujung) yang lain. Sebagaimana asal al baroo-ah adalah al muqootho’ah (memutuskan hubungan) dengan hati, lisan dan fisik. Dan hati orang yang beriman tidak akan pernah kosong dari memusuhi orang kafir… namun yang diperselisihkan itu adalah mengenai idh-haarul ‘adaawah (menampakkan permusuhan)…” (Dari Ad Duror, juz Jihad, hal. 141)
Al ‘Allaamah Syaikh ‘Abdur Rohmaan bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab (penulis buku Fat-hul Majiid) mengatakan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Mumtahanah di atas: “Maka barang siapa merenungkan ayat tersebut tentu dia memahami tauhid yang Alloh ta’aalaa turunkan melalui para Rosul dan kitab-kitabNya, dan tentu dia memahami sikap orang-orang yang menentang ajaran para Rosul dan pengikut-pengikut mereka, yaitu orang-orang bodoh yang tertipu lagi merugi. Syaikh kita --- yaitu kakeknya yang bernama Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab --- ketika menerangkan dakwah Nabi SAW kepada orang-orang Quroisy untuk bertauhid, dan apa yang beliau dapatkan dari mereka ketika beliau menyinggung ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka bahwasanya mereka itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan bahaya, mereka menganggap hal itu sebagai cacian, ia (Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab) mengatakan; “Maka apabila engkau telah memahami hal ini, tentu engkau memahami bahwasanya manusia itu tidak akan lurus Islamnya, meskipun ia telah mentauhidkan Alloh dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik [2] dan menyatakan permusuhan dan kebencian kepada mereka, sebagaimana firman Alloh ta’aalaa:
لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله
Kamu tidak akan dapatkan orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir saling mencintai dengan orang-orang yang menentang Alloh dan RosulNya. … (Al Mujadalah: 22)
Apabila engkau telah memahami hal ini dengan baik tentu engkau mengetahui bahwasannya banyak orang yang mengaku berdiin namun dia tidak memahaminya. Sebab, apakah yang menyebabkan kaum muslimin harus bersabar menanggung siksaan, penawanan dan beban-beban hijroh ke Habasyah (Ethiopia) padahal beliau adalah manusia yang paling penyayang, sehingga seandainya ada rukh-shoh (dispensasi) tentu beliau memberikan rukh-shoh kepada mereka. Bagaimana, sedangkan Alloh telah menurunkan kepada beliau ayat:

ومن الناس من يقول آمنا بالله  فإذا أوذي في الله جعل فتنة الناس كعذاب الله
Dan di antara manusia itu ada yang mengatakan; Kami beriman kepada Alloh, namun apabila dia mendapatkan gangguan dalam menjalankan ajaran Alloh dia menganggap gangguan manusia tersebut seperti siksaan Alloh. (Al ‘Ankabuut: 10)
Jika orang yang menyetujui dengan lisannya saja dikatakan seperti ini dalam ayat ini, lalu bagaimana dengan yang lainnya.” Maksudnya dengan orang yang menyetujui mereka dengan perkataan dan perbuatan, dengan tanpa mendapatkan gangguan. Ia membantu mereka, membela mereka dan orang yang setuju dengan mereka serta mengingkari orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagaimana yang terjadi sekarang.” (Ad Duror, juz Jihad, hal. 93) Dan saya katakan kepada mereka: Sungguh menakjubkan engkau, seolah-olah engkau berbicara pada zaman kami sekarang….
Dan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathiif dalam Ad Duror As Sunniyah mengatakan: “Ketahuilah --- semoga Alloh ta’aalaa memberi petunjuk kita kepada apa yang Ia cintai dan Ia ridloi --- bahwasanya seseorang itu tidak lurus Islam dan diinnya kecuali dia memusuhi musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan musuh-musuh RosulNya[3], dan yang berwalaa’ kepada wali-wali Alloh ta’aalaa dan RosulNya. Alloh ta’aalaa berfirman:
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا آباءكم وإخوانكم أولياء إن استحبوا الكفر على الإيمان
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai wali-wali jika mereka lebih mencintai kekafiran dari pada keimanan. (At Taubah: 23)


[1] Dan seorang hamba tidak akan mampu menghadapi kesyirikan dan penganutnya, dan juga tidak akan kuat untuk bersikap baroo’ kepada mereka serta menunjukkan permusuhan terhadap kebatilan mereka kecuali dengan beribadah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya. Dan Alloh SWT telah memerintahkan NabiNya Muhammad SAW untuk tilawatul Qur’an dan qiyaamul lail ketika di Mekah, dan Alloh memberitahukan kepadanya bahwa hal itu merupakan bekal yang dapat membantunya untuk memikul beban dakwah yang berat, yang tercantum sebelum firmanNya:
إنا سنلقي عليك قولا ثقيلا
Sesungguhnya Kami akan menyampaikan kepadamu perkataan yang berat. (Al Muzzammil: 5)
Alloh berfirman:
يا أيها المزمل قم الليل إلا قليلا نصفه او انقص منه قليلا أوزد عليه ورتل القرآن ترتيلا
Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari kecuali sedikit, separohnya atau kurangilah sedikit dari itu atau tambahlah, dan bacalah Al Qur’an dengan tartiil. (Al Muzzammil: 1-4)
Maka Nabi dan para sahabatpun berdiri melakukan sholat sampai kaki mereka bengkak-bengkak… sampai Alloh SWT menurunkan keringanan pada akhir surat.
Dan sesungguhnya berdiri dengan membaca ayat-ayat Alloh serta dengan merenungkan firman-firmanNya ini… benar-benar merupakan bekal dan penopang bagi seorang juru dakwah, yang dapat meneguhkan dan membantunya untuk menghadapi beban-beban dan rintangan-rintangan dakwah ... dan sesungguhnya orang-orang yang mengira akan mampu memikul dakwah yang besar ini dengan berbagai beban-bebannya yang berat tanpa dengan ikhlas beribadah kepada Alloh dengan berlama-lama dalam berdzikir dan bertasbih, sungguh mereka benar-benar keliru dan tertipu … meskipun mereka telah berjalan beberapa langkah, namun mereka tidak akan mampu untuk meneruskan dalam menempuh jalan yang benar dan lurus tanpa bekal …dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa..
Dan sesungguhnya Alloh telah menyebutkan ciri-ciri para pengikut dakwah ini, yang mana Alloh telah memerintahkan NabiNya untuk bersabar bersama mereka, bahwa mereka itu berdoa (beribadah) kepada Robb mereka pada pagi dan sore hari, dengan mengharapkan wajahNya, dan bahwa mereka itu sedikit tidur pada malam hari..dan lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Robb mereka dengan rasa takut dan penuh harap.. dan mereka takut kepada Robb mereka pada suatu hari yang mana orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.. dan ciri-ciri yang lain, yang mana orang tidak akan mampu melaksanakan dakwah ini dan memikul beban-bebannya kecuali orang yang yang memiliki cici-ciri tersebut.. semoga Alloh menjadikan kita masuk golongan mereka, maka camkanlah hal ini!!
[2] Lihat catatan kaki berikutnya.
[3] Jika yang dimaksud itu dasar permusuhan (ash-lul ‘adaawah) maka perkataan beliau tersebut berlaku secara mutlak, namun jika yang dimaksud adalah permusuhan secara umum, yang mencakup; menunjukkan, melaksanakan secara terperinci dan menyatakan permusuhan tersebut secara terang-terangan, maka yang dimaksud dalam perkataan tersebut adalah lurusnya Islam dan bukan hilangnya ash-lul Islam (Islam sampai akarnya). Dan Syaikh ‘Abdul Lathiif mempunyai penjelasan secara terperinci dalam bukunya yang berjudul Mish-baahudh Dholaam mengenai masalah ini. Barangsiapa menghendaki silahkan merujuk buku tersebut. Di sana ia mengatakan: “Maka orang yang memahami dari perkataan Syaikh bahwa orang yang tidak menyatakan permusuhannya itu kafir maka pemahamannya itu batil dan pandangannya itu sesat… “ Dan secara terperinci perkataannya akan kami cantumkan pada halaman-halaman berikutnya. Dan sesungguhnya tujuan kami cantumkan perkataan-perkataan mereka di sini adalah untuk menjelaskan betapa pentingnya prinsip ini, yang mana rambu-rambunya telah hilang dari para da’i (juru dakwah) pada zaman sekarang ini. Kemudian kami cantumkan keterangan-keterangan ini --- meskipun perkataan tersebut telah jelas --- dengan tujuan untuk menutup jalan bagi orang-orang yang hendak mengail di air keruh; yang selalu mencari-cari ungkapan-ungkapan yang bersifat umum dan hal-hal yang dapat memperkuat tuduhan mereka bahwa kami beraqidah khwaarij.