Tampilkan postingan dengan label Millah Ibrohim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Millah Ibrohim. Tampilkan semua postingan

Millah Ibrohim bag.5


”Jangan terburu-buru wahai penduduk Yatsrib! Sesungguhnya membawa keluar beliau pada hari ini artinya adalah memisahkan diri dari seluruh bangsa Arab, membunuh para pemuka kalian dan kalian akan diacungkan pedang dari berbagai penjuru. Jika kalian sabar untuk itu maka bawalah dia dan kalian akan mendapat pahala dari Alloh, namun jika kalian takut maka tinggalkanlah dia dan katakanlah kepadanya dengan terus terang karena hal itu lebih ringan bagi kalian di sisi Alloh”
(As’ad bin Zarooroh)

PEMBAHASAN KEDUA

            Dan ketahuilah --- semoga Alloh ta’aalaa mengokohkan kita di atas jalan yang lurus --- bahwasanya baroo-ah dan permusuhan yang harus ditampakkan dan ditunjukkan kepada orang-orang kafir dan sesembah-sesembah mereka sesuai dengan millah Ibrohim itu akan menuntut banyak pengorbanan…..
            Maka janganlah ada yang mengira bahwa jalan ini penuh dengan bunga-bunga dan wewangian, atau dengan santai dan kenikmatan. Namun, demi Alloh ta’aalaa jalan ini penuh dengan hal-hal yang tidak enak dan ujian….akan tetapi akan berakhir dengan wewangian, nikmat dan kesenangan, sedangkan Alloh ta’aalaa tidak murka….Kami tidak mengharapkan ujian menimpa diri kami atau menimpa kaum muslimin, akan tetapi ujian itu adalah sunnatulloh ‘Azza wa Jalla dalam menempuh jalan ini untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Ini adalah jalan yang tidak disukai hawa nafsu dan penguasa karena jalan ini jelas-jelas bertentangan dengan kondisi mereka, dan karena jalan ini adalah baroo-ah yang nyata terhadap sesembahan-sesembahan dan kesyirikan-kesyirikan mereka. Adapun selain jalan ini, sungguh engkau akan dapatkan rata-rata pelakunya adalah orang yang mewah dan cenderung kepada kehidupan dunia. Tidak terlihat adanya ujian padanya, karena sesungguhnya orang itu diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Maka orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang di bawahnya dan begitu seterusnya…sedangkan para pengikut millah Ibrohim  adalah orang-orang yang paling berat ujiannya karena mereka mengikuti manhaj para Nabi dalam berdakwah….sebagaimana yang dikatakan Waroqoh bin Naufal kepada Nabi SAW: “Tidak ada seorangpun orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia pasti dimusuhi….” Ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy. Maka jika engkau melihat orang yang mengaku mendakwahkan apa yang didakwahkan oleh Nabi SAW dan dengan menggunakan metode dakwah beliau serta sesuai dengan manhaj beliau, namun dia tidak memusuhi para pelaku kebatilan dan penguasa, bahkan dia tenang dan santai berada di tengah-tengah mereka…. maka lihatlah kondisinya…. pasti dia tersesat jalan….dan tidak membawa apa yang dibawa Nabi SAW, dan mengikuti jalan yang bengkok… atau pengakuannya dusta, dia mengenakan pakaian yang tidak layak dia kenakan, baik karena menuruti hawa nafsu atau karena setiap orang berbangga dengan pemikirannya sendiri, karena ingin meraih materi duniawi, seperti menjadi intel dan mata-mata untuk para penguasa terhadap orang-orang yang menjalankan diin… dan apa yang dikatakan oleh Waroqoh kepada Nabi SAW tersebut telah menancap pada jiwa para sahabat ketika mereka berbai’at kepada Nabi SAW, yaitu dengan berdirinya As’ad bin Zarooroh untuk mengingatkan mereka: ”Jangan terburu-buru wahai penduduk Yatsrib! Sesungguhnya membawa keluar beliau pada hari ini artinya adalah memisahkan diri dari seluruh bangsa Arab, membunuh para pemuka kalian dan kalian akan diacungkan pedang dari berbagai penjuru. Jika kalian sabar untuk itu maka bawalah dia dan kalian akan mendapat pahala dari Alloh, namun jika kalian takut maka tinggalkanlah dia dan katakanlah kepadanya dengan terus terang karena hal itu lebih ringan bagi kalian di sisi Alloh”. Ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Baihaqiy.
            Perhatikanlah ini baik-baik, karena sesungguhnya kita sangat membutuhkannya pada saat sekarang, dimana masalah ini telah dikubur oleh para da’i dan aktivitas dakwah…. Maka perhatikanlah dirimu sendiri, lalu adakanlah evaluasi … bandingkanlah dakwah tersebut dengan jalan ini, lalu buatlah perhitungan atas kelalaian yang terjadi. Jika kamu termasuk orang yang sabar untuk menjalankannya maka tempuhlah jalan itu dengan benar dan mohonkanlah kepada Alloh ‘Azza wa Jalla agar meneguhkanmu dalam menghadapi ujian yang akan menimpamu… Atau jika kamu termasuk orang-orang yang takut dan kamu melihat dirimu tidak mampu untuk melaksakannya dan untuk menyatakan millah ini secara teran-terangan maka janganlah engkau mengenakan baju da’i, tutuplah pintu rumahmu, uruslah urusan-urusan pribadimu dan tinggalkanlah urusan orang-orang banyak … Atau lakukanlah ‘uzlah (mengasingkan diri) disebuah lembah dengan domba-domba yang kamu miliki…. Karena demi Alloh seseungguhnya hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh As’ad bin  Zarooroh, lebih ringan disisi Alloh dari pada kamu mentertawakan dirimu dan mentertawakan manusia, karena kamu tidak kuat melaksanakan millah  Ibrohim  lalu kamu berdakwah dengan cara yang bengkok, dan kamu mengikuti selain petunjuk Nabi SAW, dengan berbasa-basi dan mudaahanah (kompromi) dengan thoghut, serta menutupi dan tidak menunjukkan permusuhan kepada mereka atau kepada kebatilan mereka… maka demi Alloh ta’aalaa, sesungguhnya ketika itu orang yang menyendiri disebuah lembah dengan membawa domba-dombanya itu lebih baik dan lebih lurus jalannya dari pada dirimu, dan sungguh benar orang yang mengatakan :
         نجس السريرة  طيب الكلمات
يرضى ويعجب كل طاغ وعات
في هذه الأيام بالكلمات
وتقدموا في سائر الحفـلات
كلا ولا كشفوا عن الهلكات
في وصل أهل الظلم و الشهوات
التقدير للمشهور بالنـزوات
في عصرنا بتوفر الرغبات
مخفوفة بالريب والشبهـات
الصمت أفضل من كلام مداهن   
عرف الحقيقة ثم حاد إلى الذي
لا تعجبوا يا قوم  ممن أخضبوا
وعلوا المنابر و الصحائف سودوا
والله ما قالوا الحقيقة و الـهدى
أنى يشير إلى الحقيقة راغــب
أو طالبا للجاه في عصــر به
فنصيحتي يا قوم ألا تطمــعوا
عيشوا لدين الله لا لحضــارة
diam itu lebih utama dari pada ucapan orang yang bermudaahanah (kompromi)…
hatinya najis namun kata-katanya indah…
dia memahami kebenaran kemudia berpaling kepada sesuatu yang …
menyenagkan semua thoghut yang melampaui batas…
wahai kaumku, janganlah kalian heran dengan orang-orang yang meramaikan …
pada hari ini dengan kata-kata ….
mereka naik ke mimbar-mimbar dan memenuhi lembaran-lembaran dengan tulisan …
mereka maju dalam setiap pertemuan …
demi Alloh ta’aalaa, mereka itu tidak mengucapkan kebenaran…
sekali-kali tidak, mereka tidak menyingkap hal-hal yang merusak…
bagaimana ia bisa menunjukkan kebenaran sedangkan dia  senang…
berhubungan dengan orang dholim dengan mengumbar hawa nafsu …
atau mencari kedudukan di zaman yang …
kehormatan orang-orang ternama hanya didapatkan dengan kejahatan dan kejelekan…
maka nasehatku wahai kaumku, janganlah kalian tamak …
dengan banyaknya kesenangan pada zaman kita …
hiduplah untuk diin Alloh ta’aalaa, bukan untuk kebudayaan …
yang dipenuhi dengan keraguan dan hal-hal yang samar…
Dan sungguh kami melihat mereka sering menjelek-jelekan orang-orang yang telah melihat penyelewengan mereka dan penyimpangan jalan mereka, lalu berpaling dari mereka dan dari dakwah mereka yang tidak sesuai dengan manhaj nubuwah (metode Nabi) … kami melihat mereka mengejek orang-orang tersebut lantaran mereka ‘uzlah (mengasingkan diri) … mereka mencibir orang-orang tersebut dengan mengatakan bahwa mereka berpangku tangan, cenderung kepada dunia dan melalaikan dakwah… lalu dakwah yang bagaimanakah yang kalian gunakan sebagai sarana untuk menjadi tentara dan polisi, anggota MPR, Parlemen yang syirik dan jabatan-jabatan lain yang turut memperbanyak barisan orang-orang dholim, atau yang kalian gunakan untuk masuk ke lembaga-lembaga kekejian seperti Universitas-universitas yang di dalamnya bercampur aduk antara laki-laki dan perempuan, perguruan-perguruan, sekolahan-sekolahan yang rusak dan lain-lain, dengan alasan untuk kemaslahatn dakwah sehingga kalian tidak menyatakan diin kalian yang benar dan tidak mendakwahkannya sesuai denagn petunjuk Nabi SAW… bagaimana bisa orang-orang tersebut melalaikan dakwah yang benar, yang berarti melalaikan furqoon (pemisah secara tegas) dalam berdakwah yaitu “Millah Ibrohim” lalu mereka berhujjah dengan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmiidziy, dan lain-lain:
المؤمن الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم أفضل من المؤمن الذي لايخالط الناس ولا يصبر على أذاهم
Orang beriman yang bercampur dengan manusia dan dia bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada orang beriman yang tidak bercampur dengan manusia dan tidak bersabar dangan gangguan mereka.
Kami katakan, sesungguhnya hadits ini di timur dan kalian di barat, karena bercampur dengan manusia itu harus sesuai dengan petunjuk Nabi SAW bukan dengan mengikuti hawa nafsu dan pikiran kalian serta metode-metode dakwah kalian yang bid’ah…Jika hal ini dilakukan, maksudnya sesuai dengan petunjuk Nabi SAW maka gangguan dan pahala itu akan sama-sama didapatkan...kalau tidak begitu, lalu pahala apakah yang ditunggu-tunggu orang yang tidak berdakwah sesuai dengan petunjuk Nabi SAW sedangkan dia telah melalaikan salah satu syarat yang besar dari syarat-syarat diterimanya amal yaitu ittibaa’ (mengikuti petunjuk Nabi SAW). Dan gangguan apa yang akan ditemui orang yang tidak menunjukkan permusuhan kepada orang-orang fasiq, fajir dan orang-orang yang bermaksiat, serta tidak menyatakan baroo’ kepada kesyirikan-kesyirikan mereka dan jalan-jalan mereka yang bengkok…..justru malah bergaul dengan mereka, membiarkan kebatilan mereka, bermuka senang di hadapan mereka dan tidak bermuka masam (marah) karena Alloh ta’aalaa sedikitpun ketika mereka melanggar hukum-hukum Alloh ta’aalaa dengan menggunakan dalih bersikap lembut dan hikmah, dan mau’idhoh hasanah (memberi nasehat dengan cara yang baik), tidak membikin manusia lari dari diin, kemaslahatan dakwah dan lain-lain. Ia merobohkan diin satu ikatan demi satu ikatan lantaran sikap lembut mereka yang menyimpang dan hikmah mereka yang bid’ah.
            Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan dalam sebuah risalahnya yang terdapat dalam Ad Duror As Sunniyah, ketika menjelaskan masalah terang-terangan dalam menyampaikan diin Islam dan amar ma’ruuf nahi munkar, ia mengatakan: “Dan meninggalkan itu semua sebagai bentuk mudaahanah (kompromi), bergaul dan lain-lain sebagaimana yang dilakukan orang-orang bodoh itu lebih besar bahaya dan dosanya daripada orang yang meninggalkannya hanya karena kebodohan, karena golongan ini berpendapat bahwa ma’iisyah (sumber penghidupan) itu tidak diperoleh kecuali dengan begitu, sehingga mereka menyelisihi para Rosul dan para pengikutnya, dan mereka keluar dari jalan dan manhaj mereka. Karena mereka berpendapat berdasarkan akal mereka, untuk menyenangkan manusia dalam berbagai lapisannya, hidup damai dengan mereka dan berusaha mendapatkan cinta dan kasih sayang mereka. Namun demikian tidak ada peluang untuk itu maka dia lebih mengutamakan kesenangan hawa nafsu, kenikmatan, berdamai dengan manusia dan tidak bermusuhan karena Alloh ta’aalaa serta menghadapi gangguan karenanya. Ini semua sebenarnya hanya akan mengakibatkan kebinasaan di masa yang akan datang. Karena orang yang tidak berwalaa’ dan bermusuhan karena Alloh ta’aalaa tidak akan merasakan nikmatnya iman. Sedangkan ridlo Alloh dan RosulNya tidak akan dapat diraih dengan akal-akalan, karena ia hanya dapat diperoleh dengan cara membikin marah musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan lebih mengutamakan ridlo Alloh ta’aalaa, serta marah apabila hukum-hukum Alloh ta’aalaa dilecehkan. Sedangkan marah itu tumbuh dari hati yang hidup, kecemburuan serta pengagungannya. Dan apabila hati tidak ada kehidupan, kecemburuan dan pengagungan, serta tidak ada kemarahan dan perasaaan muak, dan menganggap sama antara yang buruk dan yang baik dalam pergaulan, muwaalah (loyalitas) dan permusuhannya, maka kebaikan apakah yang masih tersisa dalam hati orang ini….” (juz Jihad hal. 35)
            Dan engkau akan mendapatkan sebagian mereka mentertawakan para pengikutnya dari kalangan pemuda dan mereka memerangi ‘uzlah (mengasingkan diri) secara mutlak, dan mereka menolak nash-nash yang kuat tentang masalah ini…dan mereka melantunkan syair Ibnul Mubaarok rh yang dikirim kepada Al Fudhoil:
لعلمت أنك بالعبادة تلعب
فنحورنا بدمائنا تتخضب
يا عابد الحرمين لو أبصرتنــا
من كان يخضب جيده بدموعه
wahai orang yang beribadah di dua tempat suci, seandainya engkau melihat kami…
tentu engkau mengerti bahwa engkau bermain-main dalam beribadah…
barang siapa yang membasahi lehernya dengan air matanya….
maka leher-leher kami basah dengan darah-darah kami…
……..dan seterusnya….
Padahal seandainya orang yang beribadah di dua tempat suci itu melihat aktifitas dakwah mereka yang bengkok, mungkin dia akan mengatakan: “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelematkan aku dari apa yang menimpa kalian dan memberi banyak keutamaan kepadaku di atas makhluqNya ….”
Dan saya katakan: Jauh berbeda antara dakwah-dakwah dan jalan-jalan yang kalian tempuh dan antara jihadnya Ibnul Mubaarok dan orang-orang sholih tersebut, sehingga kalian tidak mungkin menandingi ibadah orang-orang sholih tersebut dengan dakwah kalian…bahkan mungkin seandainya Ibnul Mubaarok melihat dakwah mereka tentu ia akan menulis bait-bait syair berikut kepada Fudhoil:
لحمدت أنك بالعبادة غائب
فهو الجهول بدينه يتلاعب
يا عابد الحرمين لو أبصرتنا
من كان لا يدعو بهدي نبيه
wahai orang yang beribadah di dua tempat suci, seandainya engkau melihat mereka…
tentu engkau bersyukur karena engkau beribadah dan tidak ikut bersama mereka…
barang siapa yang tidak berdakwah sesuai dengan petunjuk nabinya…
maka dia adalah orang yang amat bodoh yang bermain-main dengan diinnya…


Millah Ibrohim bag.4


Peringatan: Setelah ini semua, maka ketahuilah bahwasanya pelaksanaan millah Ibrohim ini tidaklah bertentangan dengan pelaksanaan sirriyyah (bergerak secara sembunyi-sembunyi) dan kitmaan (menjaga rahasia) dalam berjuang untuk memenangkan diin..dan semua penjelasan ini juga tidaklah bertentangan dengan usaha besar yang ditempuh oleh Nabi SAW, dan dalil-dalilnya dari siiroh (sejarah) sangat banyak kalau mau dihitung… namun yang benar adalah sirriyyah ini harus diletakkan pada tempatnya yang sesuai… yaitu sirriyyah dalam membuat perencanaan dan dalam melakukan i'daad (persiapan). Adapun millah Ibrohim dan kufur terhadap thoghut serta terhadap manhaj-manhaj dan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka yang batil, semua ini tidak mengandung unsur sirriyyah, akan tetapi ini adalah dakwah yang terang-terangan sehingga harus dijelaskan secara terang-terangan sejak pertama kali melangkah sebagaimana yang telah kami jelaskan di muka. Dan beginilah cara memahami sabda Nabi SAW yang berbunyi:
لاتزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق
Akan senatiasa ada sekelompok orang dari umatku yang yang dhoohir di atas kebenaran. (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain)
Adapun menyembunyikan dan menutup-nutupinya sebagai bentuk mudaahanah (toleransi, kompromi) dengan thoghut, ini berarti masuk ke dalam barisan mereka..dan ingin mendapatkan jabatan dari mereka… maka ini bukanlah yang dicontohkan Nabi SAW .. akan tetapi ini adalah ajaran dan sirriyyah orang yang menggunakan sistem organisasi buatan manusia, yang mana kepada mereka ini seharusnya dikatakan:
لكم دينكم ولي دين
Bagi kalian adalah diin kalian dan bagiku adalah diinku.
Ringkas kata dari permasalahan ini adalah bahwasanya sirriyyah itu dilakukan dalam i'daad dan perencanaan, sedangkan terang-terangan itu dilakukan dalam menyampaikan dakwah.
Kami menjelaskan masalah ini karena banyak orang, baik dari kalangan murjifiin (orang-orang yang suka melemahkan semangat) maupun orang-orang yang tidak memahami dakwah para Nabi secara benar, yang mengatakan karena kebodohan mereka; Metode yang anda serukan itu akan membongkar rahasia kami, mengungkap program-program kami dan akan menghancurkan dakwah dan buah-buah yang dihasilkannya dengan cepat…
Kepada orang-orang semacam mereka ini kami katakan: Pertama; Sesungguhnya buah-buah yang semu tersebut tidak akan matang dan tidak akan menunjukkan kebaikannya kecuali jika ditanam di atas manhaj nubuwwah (metode Nabi), dan kenyataan yang dialami oleh gerakan-gerakan dakwah hari ini menjadi bukti yang paling nyata, setelah dalil-dalil syar’iy di depan mengenai millah Ibrohim dan dakwah para Nabi dan Rosul SAW… karena sesungguhnya apa yang menimpa kita hari ini berupa bodohnya umat Islam dan bercampur-aduknya antara yang haq dan yang batil serta tidak jelasnya sikap al walaa’ wal baroo’, sebenarnya hanyalah diakibatkan oleh diamnya dan kitmaannya para ulama’ dan da’i terhadap kebenaran ini. Seandainya mereka menunjukkan dan menyetakan kebenaran tersebut secara terang-terangan, sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi tentu kebenaran itu akan nampak jelas bagi seluruh manusia. Dan dengan begitu tentu akan tersaring dan terpisah antara ahlul haqq dengan ahlul baathil, dan tentu ajaran Alloh ta’aalaa akan tersampaikan, serta pasti akan hilang kekaburan yang terjadi pada manusia, terutama mengenai masalah-masalah penting dan fital pada zaman ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang:
إذا تكلم العالم تقية والجاهل بجهله فمتى يظهر الحق
Apabila ulama’ berbicara secara taqiyah (memelintir perkataan supaya tidak difahami hakekatnya karena takut / khawatir), sedangkan orang yang bodoh tetap dengan kebodohannya, maka kapan kebenaran akan nampak.
Dan apabila diin Alloh ta’aalaa dan tauhid, baik secara ‘amaliy maupun i'tiqoodiy tidak jelas bagi manusia…maka buah apakah yang ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh para da’i itu?
Apakah berupa Daulah Islaamiyah? Sesungguhnya menampakkan tauhid yang benar kepada manusia, mengentaskan mereka dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid adalah tujuan terbesar dan target terpenting, meskipun dalam rangka mewujudkan itu gerakan-gerakan dakwah harus mendapatkan bencana dan para da’i harus mendapatkan ujian…
Dan bukankah diin itu tidak akan nampak kecuali dengan pertarungan dan ujian:
ولو لا دفع الله الناس بعضهم ببعض  لفسدت الأرض
Seandainya Alloh tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain pasti bumi akan rusak. (Al Baqoroh: 251)
Maka beginilah cara meninggikan diin Alloh ta’aalaa, menyelamatkan manusia dan mengentaskan mereka dari berbagai kesyirikan. Dan inilah tujuan yang dalam rangka mewujudkannya terjadi cobaan dan menghadapi sengsaranya pengorbanan…sedangkan daulah Islamiyah itu tidak lain hanyalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan yang paling besar ini.. dan dalam peristiwa ash-haabul ukh-duud terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Karena pemuda yang sebagai seorang da’i yang tulus itu, ia tidak menegakkan daulah dan tidak pula meraih kekuasaan, akan tetapi dia telah menunjukkan tauhid dengan sejelas-jelasnya, dan dia telah membela diin yang haq dengan pembelaan yang kuat dan dia telah meraih syahaadah (mati syahid). Lalu kalau sudah begitu apalagi nilainya hidup ini, dan apa beratnya dibunuh, dibakar dan disiksa jika seorang da’i telah meraih kesuksesan yang paling besar… baik tegak daulah maupun tidak.. meskipun orang-orang beriman dibakar dan digalikan parit-parit, sesungguhnya mereka telah meraih kemenangan karena kalimatulloh telah nampak jelas dan tinggi… selain itu mereka telah meraih syahaadah (mati syahid) dan mendapatkan jannah .. maka alangkah berbahagianya dia dengan apa yang telah ia raih dan alangkah bahagianya dia..
Dengan demikian engkau dapat memahami bahwa orang-orang bodoh yang mengatakan: “Sesungguhnya metode dakwah seperti ini akan menghancurkan dakwah dan akan mempercepat rusaknya buah-buah yang telah diraih dalam dakwah.” adalah merupakan irjaaf (usaha untuk melemahkan semangat) dan kebodohan. Karena metode dakwah seperti ini merupakan ajaran dalam diin Alloh ta’aalaa yang Alloh ta’aalaa janjikan akan dimenangkan atas seluruh diin meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Dan hal itu tidak diragukan lagi pasti terrealisasi. Sedangkan menang dan tingginya diin Alloh ta’aalaa itu tidaklah tergantung dengan para murjifiin (orang-orang yang berusaha melemahkan semangat) tersebut sehingga akan gagal dengan kegagalan mereka atau akan hancur dengan hancurnya mereka atau dengan berpalingnya mereka… Alloh ta’aalaa berfirman:
وإن تتولوا يستبدل قوما غيركم ثم لا يكونوا أمثالكم
Dan jika kalian berpaling, Alloh akan mengganti kalian dengan kaum yang lain kemudian mereka tidak berlaku seperti kalian. (Muhammad: 38)
Dan Alloh ta’aalaa berfirman:
يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم
Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari diinnya niscara Alloh akan mendatangkan sebuah kaum yang Alloh cintai dan mereka mencintai Alloh, yang lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Alloh, dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela. Itu adalah karunia Alloh yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (Al Maa idah: 54)
Dan Alloh ta’aalaa berfirman:
ومن يتول فإن الله هو الغني الحميد
Dan barang siapa berpaling maka sesungguhnya Alloh adalah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Hadiid: 24)
Dan inilah dakwah para Nabi dan Rosul serta para pengikut mereka, yang merupakan bukti yang paling nyata dalam sejarah. Dan sungguh mereka adalah orang-orang yang paling berat ujiannya namun hal itu tidak berpengaruh terhadap cahaya mereka, bahkan hanya semakin menambah jelas dan terkenal serta merasuk ke dalam hati manusia dan dikalangan mereka. Dan lihatlah sampai hari ini dakwah tersebut terus menjadi cahaya yang menerangi jalan orang-orang beriman dalam berdakwah. Dan inilah kebenaran yang tidak diragukan lagi.
Kemudian selain itu semua, di sini ada satu permasalahan terakhir yang harus dipahami… yaitu bahwasanya menyatakan permusuhan dan baroo’ secara terang-terangan kepada orang-orang kafir yang membangkang, dan menunjukkan kekufuran terhadap sesembahan mereka yang batil dan berbeda-beda pada setiap zaman… meskipun hal ini merupakan sikap dasar setiap da’i muslim… dan inilah ciri khas para Nabi serta metode dakwah mereka yang lurus dan jelas.. yang mana jika tidak melaksanakan dan mengikutinya, gerakan-gerakan dakwah tersebut tidak akan sukses, tidak akan benar tujuan dan sikapnya, tidak akan nampak jelas diin Alloh ta’aalaa, dan manusia tidak akan memahami kebenaran. Namun demikian jika telah ada sekelompok ahlul haqq yang menyampaikannya dengan terang-terangan, maka gugurlah kewajiban tersebut --- yaitu kewajiban untuk menyampaikannya secara terang-terangan --- dari yang lain, terutama bagi orang-orang yang lemah dan tertindas. Adapun kebencian dan permusuhan itu sendiri merupakan kewajiban setiap muslim disetiap waktu dan tempat. Karena sebagaimana yang telah saya sampaikan bahwsanya hal ini adalah kandungan laa ilaaha illallooh yang mana Islam seseorang tidak akan syah kecuali dengannya. Namun jika hal ini ditinggalkan secara keseluruhan dalam dakwah, padahal ini adalah prinsip yang paling pokok dalam dakwah para Nabi, maka ini adalah aneh dan mengada-ada, dan bukan termasuk ajaran Islam sama sekali, bahkan para da’i yang berdakwah dengan tidak mengikuti petunjuk Nabi SAW itu taqlid dan mengekor kepada partai-partai buatan manusia dan gerakan-gerakannya, yang menggunakan prinsip taqiyah (memelintir perkataan supaya tidak difahami hakekatnya karena takut / khwatir) dalam berbagai keadaan dan tidak menghiraukan larangan mudaahanah (kompromi, toleransi) dan tidak merasa keberatan dengan kemunafikan …
Dan pengecualian yang kami tetapkan ini tidaklah muncul dari hawa nafsu atau akal-akalan belaka akan tetapi bersumber dari nash-nash syar’iy yang banyak … dan bagi orang yang memberhatikan siiroh Nabi SAW ia akan memahami masalah ini dengan jelas… sebagai contoh lihatlah kisah Islamnya ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy yang terdapat dalam Shohiih Muslim, dan yang dijadikan landasan adalah perkataan ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy yang berbunyi: “Sungguh aku ingin mengikutimu.” Maka Rosululloh bersabda:
إنك لا تستطيع ذلك يومك هذا ألا ترى حالي وحال الناس ولكن ارجع إلى أهلك فإذا سمعت بي قد ظهرت  فأتني...
Pada hari ini kamu tidak akan mampu melakukaannya. Tidakkah kamu melihat apa yang terjadi antara aku dan orang-orang. Maka kamu pulang saja ke keluargamu, apabila kamu mendengar aku telah menang maka datanglah kepadaku….(Hadits)
An Nawawiy mengatakan: “Maksudnya adalah ia mengatakan kepada Rosul; Sesungguhnya aku ingin mengikutimu dalam menunjukkan Islam di sini dan aku akan tinggal bersamamu. Maka beliau menjawab; Kamu tidak akan mampu karena kekuatan kaum muslimin lemah dan kami khawatir kamu akan mendapatkan gangguan dari orang-orang kafir Quroisy. Namun kamu telah memperoleh pahala, maka tetaplah kamu Islam dan kembalilah kepada kaummu. Dan tetaplah kamu Islam sampai kamu mengetahui bahwa aku telah menang, maka datanglah kepadaku…” Ini adalah salah seorang yang diijinkan Nabi SAW untuk tidak menunjukkan dan menampakkan diinnya… karena ketika itu diin Alloh ta’aalaa dan dakwah Nabi SAW telah terkenal dan telah nampak. Yang menunjukkan hal ini adalah sabda beliau dalam hadits yang sama yang berbunyi:
ألا ترى حالي وحال الناس
Apakah kamu tidak melihat apa yang terjadi antara aku dan orang-orang.
Dan juga kisah Islamnya Abu Dzar yang terdapat dalam Shohiih Al Bukhooriy, dan yang dijadikan landasan adalah sabda Rosul kepadanya yang berbunyi:
يا أبا ذر اكتم هذا الأمر وارجع إلى بلدك فإذا بلغك ظهورنا فاقبل ...
Wahai Abu Dzar, sembunyikanlah masalah ini, dan pulanglah ke negerimu. Lalu apabila kamu telah mendengar kami menang maka datanglah… (Hadits)
Namun demikian Abu Dzar malah menyatakannya dengan terang-terangan di hadapan orang-orang kafir karena ingin mengikuti cara dan metode Nabi SAW. Meskipun mereka memukulinya sampai hampir mati, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, dan meskipun ia malahan mengulangi perbuatannya, meskipun demikian Nabi SAW tidak mengingkari perbuatannya dan tidak pula melemahkan semangatnya. Atau mengatakan kepadanya sebagaimana yang dikatakan oleh para da’i zaman sekarang, yang mengatakan: Dengan perbuatanmu ini kamu telah mengacaukan dakwah dan menimbulkan fitnah (bencana), membahayakan dakwah dan memperlambatnya selama seratus tahun…. Dan tidaklah mungkin Rosululloh mengatakan seperti itu… karena beliau adalah suri tauladan dan panutan dalam meniti jalan dakwah bagi seluruh manusia sampai hari qiyamat. Maka sembunyi-sembunyi dalam mengikuti dakwah yang dilakukan oleh sebagian mustadl’afiin (orang-orang yang lemah dan tertindas) adalah sebuah permasalahan sedangkan nampak dan jelasnya diin adalah permasalahan yang lain. Dahulu dakwah Nabi SAW adalah jelas dan terkenal, dan semua orang tahu bahwa pokok dan konsentrasinya adalah kufur terhadap thoghut-thoghut yang ada pada zaman itu, dan bertauhid dalam berbagai macam bentuk ibadah kepada Alloh ta’aalaa … sampai-sampai beliau benar-benar mengingatkan agar menjauhi thoghut tersebut dan memeranginya dengan berbagai sarana. Dan tidaklah para pengikutnya yang mustadl’afiin (lemah lagi tertindas) itu memerlukan untuk menyembunyikan diri dan hijroh, dan tidak pula mereka akan mendapatkan gangguan dan penindasan kecuali disebabkan karena jelas dan terkenalnya dakwah. Seandainya mereka mau sedikit saja bermudaahanah (kompromi) sebagaimana yang dilakukan orang-orang pada zaman sekarang ini, tentu  itu semua tidak akan terjadi.
Dan setelah engkau memahami poin ini, engkau akan memahami permasalah penting yang lain, yaitu: bolehnya melakukan mukhooda’ah (tipu daya) terhadap orang-orang kafir dan bolehnya sebagian kaum muslimin bersembunyi di sela-sela barisan mereka ketika terjadi konfrontasi dan peperangan, selama diin itu telah dhoohir (nampak jelas) dan prinsip dakwah telah terkenal… maka dalam kondisi semacam ini dibenarkan untuk beralasan dengan peristiwa pembunuhan Ka’ab bin Al Asyroof dan yang semisalnya… adapun menghabiskan umur sebagai pasukan thoghut yang berwalaa’ dan bermudaahanah, hidup dan mati untuk mengabdi kepada mereka dan mengabdi kepada lembaga-lembaga mereka yang jahat dengan alasan untuk berdakwah dan memperjuangkan diin, sebagai mana yanng dilakukan oleh para da’i tersebut… sehingga mengaburkan diin manusia dan mengubur tauhid… maka sesungguhnya cara-cara tersebut adalah di barat sedangkan dakwah Nabi SAW dan petunjuk beliau berada di ujung timur.
شتان بين مشرق و مغرب
سارت مشرقة وسرت مغربا
ia berjalan ke timur sedangkan aku berjalan ke barat…
sungguh berbeda antara orang yang berjalan ke timur dengan orang yang berjalan ke barat…
Dengan demikian maka millah Ibrohim adalah cara dakwah yang benar .. yang menyebabkan perpisahan dengan orang-orang yang dicintai dan menyebabkan pemenggalan leher … adapun jalan-jalan, cara-cara dan manhaj-manhaj lain yang bengkok dan menyeleweng yang digunakan untuk meneguhkan diin Alloh ta’aalaa dengan tanpa menjauhi pangkat dan kedudukan, dan dengan tanpa marah terhadap para pemegang kekuasaan .. atau tanpa harus kehilangan istana, istri-istri dan kebahagiaan dalam keluarga, rumah dan negara, maka ini sama sekali bukanlah millah Ibrohim, meskipun orang-orang yang melakukan gerakan-gerakan dakwah tersebut mengaku bahwa mereka berada di atas manhaj salaf dan manhaj dakwah para Nabi dan Rosul… dan sungguh kami pernah melihat mereka… kami pernah melihat bagaimana wajah mereka berseri-seri dihadapan orang-orang munafiq dan dholim, bahkan dihadapan orang-orang kafir yang menentang Alloh ta’aalaa dan RosulNya, bukan untuk mendakwahi mereka atau mengharapkan mereka dapat hidayah, akan tetapi orang-orang tersebut bergaul dengan mereka sebagai bentuk mudaahanah (kompromi) dan sikap diam orang-orang tersebut terhadap kebatilan mereka. Dan orang-orang tersebut bertepuk tangan dan berdiri untuk menghormati mereka. Orang-orang tersebut mengagungkan mereka dengan cara memanggil mereka dengan gelar-gelar mereka… seperti Shoohibul Jalaalah (yang agung), Al Malikul Mu’adh-dhom (raja yang diagungkan), Ar Ro-iisul Mukmin (pemimpin yang beriman), Shoohibus Sumuwwi (yang mempunyai derajat tinggi) bahkan Imaamul Muslimiin dan Amiirul Mukminiin, padahal mereka memerangi Islam dan kaum muslimin.[1]… Ya, demi Alloh ta’aalaa  kami melihat diantara mereka pergi pada waktu pagi dan pulang  pada waktu sore … menjual diin nya dengan harga  yang lebih murah dari pada sayap nyamuk … pada waktu sore dia beriman, belajar tauhid dan mungkin mengajar tauhid namun pada waktu pagi dia bersumpah untuk menghormati hukum dan undang-undang kafir, dan dia bersaksi atas kesucian undang-undang buatan manusia … Dan memperbanyak barisah orang-orang dholim dan menemani mereka dengan wajah yang berseri-seri dan dengan kata-kata yang manis… Padahal siang dan malam mereka membaca ayat-ayat yang melarang mereka untuk sedikit condong atau taat kepada orang dholim dan ridho terhadap sebagian dari kebatilan mereka. Mereka membaca ayat-ayat tersebut seperti :
ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار
Dan janganlah kalian sedikit condong kepada orang-orang dholim sehingga kalian disentuh naar (api neraka). (QS.Huud : 113)
Dan :
وقد نزل عليكم في الكتاب  أن إذا سمعتم آيات الله يكفر بها ويستهزأ بها فلا تقعدوا معهم حتى يخوضوا في حديث غيره إنكم إذا مثلهم ...
Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kalian dalam kitab bahwasanya apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh dikafirkan dan di olok-olok maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka berbicara tentang yang lain, jika demikian kalian seperti mereka … (An-Nisaa’ : 140)
            Syaikh Sulaimaan bin ‘Abdulloh bin Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab mengatakan tentang makna firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi :
إنكم إذا مثلهم
jika demikian kalian seperti mereka,
ayat ini sesuai dengan dhohirnya yaitu bahwasanya apabila seseorang mendengar ayat-ayat Alloh ta’aalaa dikufuri dan  di olok-olok lalu dia duduk bersama orang-orang kafir yang mengolok-olok tersebut, dengan tanpa ikrooh (dipaksa) atau mengingkari atau pergi dengan meninggalkan mereka… sampai mereka berbicara tentang yang lain, maka dia kafir seperti mereka meskipun dia tidak melakukan apa yang mereka lakukan … “ (Dari Ad Duror As Sunniyah, juz Jihad hal. 79).
Dan firman Alloh ‘Azza wa Jalla :
وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره
Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah kalian dari mereka sampai mereka berbicara tentang yang lain. (Al An’am : 68)
            Al Hasan Al Bashriy mengatakan: “Dia tidak boleh duduk bersama mereka baik mereka mempermainkan atau tidak mempermainkan, berdasarkan firman Alloh ta’aalaa:
وإما ينسينك الشيطان فلا تقعد بعد الذكرى مع القوم الظالمين
Dan apabila syetan menjadikan kamu lupa maka setelah ingat janganlah kamu duduk bersama orang-orang dholim. (Al An’aam: 68)
Dan begitu pula firman Alloh ta’aalaa:
ولولا أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا إذا لأذقناك ضعف الحياة وضعف الممات ثم لا تجد لك علينا نصيرا
Dan jika tidak Kami teguhkan kamu tentu kamu benar-benar hampir rukuun (sedikit condong) kepada mereka. Dengan demikian Kami akan rasakan kepadamu siksaan yang berlipat ganda pada waktu hidup dan sesudah mati, kemudian kamu tidak akan mendapatkan penolong dari Kami. (Al-Isro’ : 74­)
            Syaikh Sulaimaan bin ‘Abdulloh mengatakan: “Apabila perkataan ini ditujukan kepada manusia yang paling mulia SAW, lalu bagaimana dengan orang yang lainnya.” (Dari Ad Duror As Sunniyah, juz Jihad hal. 47)
            Dan mereka juga membaca firman Alloh ta’aalaa yang menggambarkan keadaan orang-orang beriman:
والذين هم عن اللغو معرضون
Dan orang-orang yang berpaling dari perkataan atau perbuatan yang tidak berguna. (QS. Al Mu’minun:3)
Dan firman Alloh ta’aalaa:
والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما
Dan orang-oarng yang tidak memberi kesaksian palsu dan apabila mereka melewati hal yang tidak berguna mereka melewatinya dengan mulia. (QS. Al Furqoon: 72)
            Dan mereka mengaku bahwa mereka di atas manhaj Salaf, padahal salaf lari menjauh dari pintu-pintu dan kedudukan yang diberikan para penguasa pada masa syariat dan kebenaran berkuasa, bukan pada masa kedholiman dan kegelapan… Dan demi Alloh ta’aalaa, tidaklah diletakkan pedang di atas leher mereka atau dibelenggu kaki mereka atau dipaksa untuk begitu…. akan tetapi mereka melakukannya dengan suka rela dan membayar uang yang banyak…. dan diplomasi-diplomasi yang kuat. Maka kami berlindung kepada Alloh ta’aalaa dari hawa nafsu dan tertutupnya penglihatan…Mereka tidak mengatakan: ”Kami lakukan ini semua karena tamak terhadap dunia.”…namun mereka mengatakan bahwa ini semua mereka lakukan untuk kemaslahatan dakwah dan memperjuangkan diin…lalu siapakah yang kalian tertawakan wahai orang-orang yang malang… apakah kami yang lemah ini?? Sesungguhnya kami tidak kuasa memberikan manfaat atau madlorot kepada kalian …ataukah penguasa langit dan bumi, yang tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dariNya dan Dia mengetahui apa yang kalian bisikkan….
            Dan kami telah mendengar mereka menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dan mengingkari mereka atas perbuatan tersebut, sebagai orang-orang yang dangkal pemikirannya dan sedikit pengalamannya, dan bahwasanya mereka tidak secara hikmah dalam berdakwah dan tidak sabar dalam menuai hasil atau tidak memahami waaqi’ (kondisi realita) dan sunnah kauniyah (hukum alam)…. dan bahwasanya mereka tidak memahami politik dan dangkal pemahamannya. Sedangkan orang-orang yang malang itu tidak menyadari, bahwasanya mereka tidaklah menuduh orang-orang tertentu akan tetapi yang mereka tuduh itu adalah diin seluruh Rosul dan millah Ibrohim …yang diantara prinsip terpentingnya adalah menyatakan baroo’ dan kufur kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan kepada jalan-jalan mereka yang menyimpang, dan menunjukkan permusuhan serta kebencian kepada manhaj-manhaj mereka yang kafir…Dan mereka tidak menyadari bahwa dengan mengatakan seperti itu berarti mereka menuduh bahwasanya Ibrohim  dan orang-orang yang bersamanya itu tidak berdakwah secara hikmah dan tidak memahami waaqi’ (kondisi realita)…..dan bahwasanya mereka itu ekstrim dan tergesa-gesa…padahal Alloh ta’aalaa telah memuji mereka dan memerintahkan kita agar mendahului mereka….Alloh ta’aalaa berfirman:
قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم و الذين معه
Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya. (QS. Al Mumtahanah: 4)
Dan Alloh ta’aalaa berfiman:
ومن أحسن دينا ممن أسلم وجهه لله وهو محسن واتبع ملة إبراهيم حنيفا واتخذ الله إبراهيم خليلا
Dan siapakah yang lebih baik diinnya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Alloh sedangkan dia berbuat baik dan mengikuti millah Ibrohim yang lurus. Dan Alloh telah menjadikan Ibrohim  sebagai kholiil (kekasih). (QS. An Nissa’: 125)
Dan Alloh ta’aalaa menjauhkan Ibrohim  dari kebodohan dan menyatakan bahwa  ia adalah orang yang mendapat petunjuk….dalam firmanNya:
ولقد آتينا إبراهيم رشده من قبل وكنا به عالمين
Dan sungguh Kami telah anugerahkan kepada Ibrohim  petunjuk sebelumnya dan Kami adalah mengetahui tentang dirinya. (QS. Al Anbiyaa’:51)
Kemudian Alloh ta’aalaa menceritakan dakwahnya, bahkan Alloh ta’aalaa menerangkan sebagaimana yang telah kami uraikan di depan bahwasanya tidak ada yang membenci millah Ibrohim  kecuali orang yang bodoh….Dan bagaimana mungkin orang yang bodoh itu dapat berdakwah secara hikmah, memiliki pemahaman yang jelas, manhaj yang benar dan jalan yang lurus sebagai mana yang ia klaimkan….??


[1] Di sini ada sebuah tambahan penting yang membongkar kesesatan para ulama’ pemerintah. Ketahuilah --- semoga Alloh menyelamatkan kita dari tipu daya orang-orang yang menyesatkan --- sesungguhnya orang-orang bodoh itu meskipun mereka disebut sebagai Masyaayikh dan bergelar Salafiy, yang menyebut para thoghut zaman ini dengan gelar Amiirul Mukminiin atau Imaamul Muslimiin … sesungguhnya dalam hal ini mereka mengikuti jejak khowaarij dan mu’tazilah yang tidak mengakui bahwa di antara syarat menjadi imam itu adalah harus Qurosyiy (keturunan suku Quroisy)… tentang masalah ini silahkan merujuk ke Shohiih Al Bukhooriy, Kitaabul Ahkaam, Baabu Al Umaroo’ Min Quroisy, juga kutubus sunan (kitab-kitab hadits), buku-buku fiqih dan Al Ahkaam As Sulthooniyah (buku-buku tentang ketata negaraan) yang lain. Sesungguhnya ini adalah permasalah yang sudah masyhur sehingga engkau tidak akan kesulitan untuk mendapatkannya… dan Ibnu Hajar menukil perkataan Al Qoodliy ‘Iyaadl dalam Fat-hul Baariy yang berbunyi: “Seluruh ulama’ mensyaratkan untuk menjadi imam haruslah Qurosyiy (keturunan suku Quroisy), dan mereka memasukkan hal ini ke dalam masaa-ilu ijmaa’ (termasuk permasalahan-permasalahan yang telah disepakati). Dan tidak ada riwayat dari seorang salafpun yang menyelesihinya, begitu pula orang-orang setelah mereka diseluruh daerah.” Ia mengatakan: “Dan tidaklah dianggap pendapat khowaarij dan orang-orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan mu’tazilah.” (XXXI/91)
Kemudian saya melihat Syaikh ‘Abdulloh Abu Thiin, seorang ulama’ Dakwah Najdiyyah, beliau membantah orang-orang yang menjuluki Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab dan ‘Abdul ‘Aziiz bin Muhammad bin Sa’uud dengan gelar imaam, sesungguhnya dia itu hanyalah seorang ulama’ yang mendakwahkan kebenaran dan berperang di atasnya. Dan semasa hidupnya ia tidak bergelar sebagai imam. Begitu pula ‘Abdul ‘Aziiz bin Muhammad bin Sa’uud, semasa hidupnya tidak ada seorangpun yang menyebutnya sebagai imam. Namun penyebutan imam itu terjadi pada orang-orang yang menjabat setelah keduanya meninggal…” (Lihat Ad Duror As Sunniyah, juz Jihad, hal. 240). Lihatlah bagaimana seorang ulama’ robbaaniy ini memungkiri hal ini. Meskipun keduanya termasuk penyeru kebenaran. Dan ia tidak membantah dengan sombong sebagaimana yang dilakukan oleh banyak Masyaayikh pemerintah pada zaman sekarang yang bersikukuh, yang menyebut thoghut-thoghut mereka dengan sebutan imam dan amiirul mukminiin … maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka itu berjalan di atas manhaj khowaarij… yang (mana paham khowaarij ini) adalah fitnah yang sering mereka lontarkan kepada tholabatul ‘ilmi (para penuntut ilmu) dan kepada para da’i yang menyerukan kebenaran dan menentang thoghut-thoghut mereka…
أولى ليدفع عنه فعل الجاني
ولذاك عند الغر يشتبهــان
و رموهم بغيا بما الرامي بـه
يرمي البريء بما جناه مباهتا
mereka menuduh secara dholim yang sebenarnya penunduhnya…
lebih layak untuk memungkiri kejahatan yang dilakukannya…
ia menuduh orang yang tidak melakukan perbuatan yang justru ia lakukan sendiri…
oleh karena itu orang yang tidak berpengalaman akan sulit membedakan siapa yang melakukannya …
Ini semua mengenai syarat imam harus Qurosyiy (dari keturunan suku Quroisy). Lalu bagaimana jika selain mereka bukan Qurosyiy (keturunan suku Quroisy) mereka juga tidak memenuhi syarat Al ‘Adaalah, ilmu, hikmah dan syarat-syarat untuk menjadi imam lainnya? Dan bagaimana jika syarat harus Islam dan beriman tidak terpenuhi? Bagaimana dan bagaimana?


Millah Ibrohim bag.3


Inilah diin seluruh Rosul.. dan inilah dakwah dan jalan mereka sebagaimana yang diterangkan dalam berbagai ayat dan hadits… dan begitu pula dalam firman Alloh ta’aalaa dalam surat Al Mumtahanah yang berbunyi:
و الذين معه
Dan orang-orang yang bersamanya
Maksudnya adalah para Rosul yang berada di atas diin dan millahnya .. hal ini dikatakan oleh lebih dari seorang mufassir (ahli tafsir)
Dan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan mengatakan: “Dan inilah yang dimaksud dengan idh-haarud diin, bukan sebagaimana yang dikira oleh orang-orang bodoh yang mengira bahwasanya jika orang-orang kafir membiarkannya sholat, membaca Al Qur’an dan menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah yang dia inginkan berarti dia telah melaksanakan idh-haarud diin. Ini adalah salah besar. Karena sesungguhnya orang yang menyatakan permusuhan kepada orang musyrik dan baroo’ kepada mereka tidak akan mereka biarkan tinggal ditengah-tengah mereka, akan tetapi mereka akan membunuh atau mengusirnya jika mereka mempunyai kesempatan sebagaimana yang diterangkan dalam firman Alloh ta’aalaa mengenai orang-orang kafir, yang berbunyi:
وقال الذين كفروا لرسلهم لنخرجنكم من أرضنا أولتعودن في ملتنا
Dan orang-orang kafir mengatakan kepada Rosul-rosul mereka: Kami pasti akan mengusir kalian dari wilayah kami atau kalian harus kembali kepada millah kami … (Ibrohim: 13)
Dan Alloh ta’aalaa menceritakan tentang kaumnya Syu’aib:
لنخرجنك يا شعيب والذين آمنوا معك من قريتنا أو لتعودن في ملتنا
Kami benar-benar akan mengusirmu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari wilayah kami wahai Syu’aib atau kalian harus kembali kepada millah kami…(Al A’roof: 88)
Dan Alloh ta’aalaa menceritakan tentang kisah ash-haabul kahfi (orang-orang yang menyelamatkan diri ke goa), sesungguhnya mereka mengatakan:
إنهم إن يظهروا عليكم يرجموكم أو يعيدوكم في ملتهم ولن تفلحوا إذا أبدا
Sesungguhnya jika kalian nampak oleh mereka niscaya mereka melempari kalian dengan batu atau mengembalikan kalian kepada millah mereka dan dengan demikian kalian tidak akan beruntung selamanya. (Al Kahfi: 20)
Dan bukankah permusuhan mereka terhadap para Rosul itu memuncak hanya setelah para Rosul itu mencaci diin mereka, membodoh-bodohkan akal mereka dan mencela ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka.” (Dari Ad Duror, juz Jihad, hal. 208)
Dan Syaikh Sulaimaan bin Samhaan mengatakan mengenai ayat yang terdapat dalam surat Al Mumtahanah juga: “Inilah millah Ibrohim yang Alloh ta’aalaa maksudkan dalam firmanNya yang berbunyi:
ومن يرغب عن ملة إبراهيم إلا من سفه نفسه
Dan tidak ada orang yang membenci millah Ibrohim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. (Al Baqoroh: 130)
Maka orang muslim harus memusuhi musuh-musuh Alloh ta’aalaa, menampakkan permusuhan kepada mereka, menjauhkan diri dari mereka sejauh-jauhnya, dan tidak boleh berwalaa’ kepada mereka atau bergaul dengan mereka atau berbaur dengan mereka…” (Ad Duror As Sunniyah, juz Jihad, hal. 221)
Dan di tempat lain Alloh ta’aalaa menceritakan tentang millah Ibrohim:
قال أفرأيتم ما كنتم تعبدون أنتم وآباؤكم الأقدمون  فإنهم عدو لي إلا رب العالمين
Ibrohim mengatakan: Tahukah kalian apa yang kalian ibadahi. Baik kalian maupun bapak-bapak kalian yang terdahulu. Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku kecuali Robb semesta alam. (Asy Syu’aroo’: 75-77)
Dan di tempat yang lain Alloh ta’aalaa berfirman:
وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين
Dan ingatlah ketika Ibrohim mengatakan kepada bapak dan kaumnya: Sesungguhnya aku baroo’ kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi kecuali Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. (Az Zukhruf: 26-27)
Syaikh Al ‘Allaamah ‘Abrur Rohmaan bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rh mengatakan: “Dan Alloh ta’aalaa telah mewajibkan baroo’ terhadap kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik, serta mengkufuri, memusuhi, membenci dan jihad terhadap mereka:
فبدل الذين ظلموا قولا غير الذي قيل لهم
Maka orang-orang dholim merubahnya dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka. (Al Baqoroh: 59)
Maka merekapun berwalaa’, membantu dan menolong orang-orang musyrik itu. Dan orang-orang musyrik itupun meminta bantuan kepada mereka untuk memusuhi orang-orang beriman. Sehingga dalam rangka itu mereka membenci dan mencela orang-orang beriman. Dan perbuatan-perbuatan ini semuanya membatalkan Islam sebagaimana yang diterangkan oleh Al Qur’an dan Sunnah pada beberapa tempat.
- Di sini ada sebuah syubhat yang dilontarkan banyak orang yang tergesa-gesa. Mereka mengatakan: Sesungguhnya millah Ibrohim itu hanyalah dilakukan pada fase dakwah yang terakhir yang mana sebelumnya telah melalui proses dakwah dengan cara hikmah (bijaksana) dan berdebat dengan cara yang paling baik. Dan seorang da’i (juru dakwah) tidak boleh melaksanakan millah Ibrohim yang berarti baroo’ kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan kepada sesembahan-sesembahan mereka, dan kufur kepadanya, serta menunujukkan permusuhan dan kebencian kepada mereka kecuali setelah menempuh seluruh tata cara yang lembut dan hikmah.. mengenai persoalan ini kami jawab ---wabillaahit taufiiq---: Kerancuan ini sebenarnya muncul dari ketidak jelasan mereka dalam memahami millah Ibrohim dan karena mencampur adukkan antara metode dakwah kepada orang-orang kafir pada tahap permulaan dengan metode dakwah kepada orang-orang kafir yang membangkang… dan juga perbedaan antara semua itu (sikap terhadap orang-orang musyrik-pentj.) dengan sikap seorang muslim terhadap sesembahan-sesembahan, manhaj-manhaj dan syariat-syariat orang-orang kafir yang batil itu sendiri… adapun millah Ibrohim yang berarti memurnikan ibadah hanya kepada Alloh ta’aalaa saja dan kufur terhadap segala sesuatu yang kita ibadahi selain Alloh ta’aalaa, ini tidak boleh diakhirkan atau diundur… bahkan seharusnya tidak dimulai kecuali dengannya. Karena ini merupakan kandungan laa ilaaha illallooh yang mencakup An Nafyu (peniadaan) dan Al Itsbaat (penetapan). Dan ini adalah dasar diin dan poros dakwah para Nabi dan Rosul. Dan untuk menepis seluruh kerancuan ini, di sini saya akan terangkan dua permasalah:
Pertama: Baroo’ kepada thoghut dan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa serta kufur kepadanya. Hal ini tidak boleh diakhirkan atau diundur… bahkan ini harus ditunjukkan dan ditampakkan sejak langkah pertama.
Kedua: Baroo’ kepada orang-orang musyrik ketika mereka tetap bersikukuh dalam kebatilan mereka. Dan berikut ini perincian dan penjelasannya:
Masalah pertama: yaitu kufur kepada thoghut yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa. Baik thoghut itu berupa berhala dari batu atau matahari atau bulan atau kuburan atau pohon atau hukum dan undang-undang buat manusia… millah Ibrohim dan dakwah para Nabi dan Rosul menuntut untuk menunjukkan sikap kufur kepada semua sesembahan tersebut, serta menampakkan permusuhan dan kebencian kepadanya, membodoh-bodohkannya, merendahkan nilainya, dan membongkar kepalsuan, kekurangan serta cacatnya sejak langkah pertama. Dan beginilah langkah para Nabi ketika memulai dakwah kepada kaum mereka, yaitu mengatakan:
اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت
Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut. (An Nahl: 36)
Termasuk dalam hal ini adalah firman Alloh ta’aalaa yang menerangkan tentang millah Ibrohim AS.
قال أفرأيتم ما كنتم تعبدون أنتم وآباؤكم الأقدمون  فإنهم عدو لي إلا رب العالمين
Ibrohim mengatakan: Tahukah kalian apa yang kalian ibadahi. Kalian dan juga bapak-bapak kalian terdahulu. Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku kecuali Robb semesta alam. (Asy-Syuuroo: 75-77)
Dan firman Alloh ta’aalaa yang terdapat dalam surat Al An’aam yang berbunyi:
قال يا قوم إني بريء مما تشركون
Ia mengatakan: Wahai kaumku sesungguhnya aku baroo’ terhadap apa yang kalian sekutukan. (Al An’aam: 78)
Dan firmanNya SWT:
وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين
Dan ingatlah ketika Ibrohim mengatakan kepada bapak dan kaumnya: Sesungguhnya aku baroo’ dari apa yang kalian ibadahi selain yang menciptakanku, sesungguhnya DIA akan memberi petunjuk kepadaku. (Az Zukhruf: 26-27)
Dan sebagaimana firmanNya mengenai kaumnya Ibrohim:     
قالوا من فعل هذا بآلهتنا إنه لمن الظالمين قالوا سمعنا فتى يذكرهم يقال له إبراهيم
Mereka mengatakan: Siapa yang melakukan ini terhadap ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) kita, sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang dholim. Mereka mengatakan: Kami mendengar ada seorang pemuda yang menyebut mereka (ilaah-ilaah kita), ia dipanggil dengan nama Ibrohim. (Al Ambiyaa’: 59-60)
Para ahli tafsir mengatakan bahwa:
يذكرهم
Menyebut mereka (ilaah-ilaah kita).
Maksudnya adalah mencela, mengejek dan menghina mereka. Al Qur’an dan Sunnah penuh dengan dalil-dalil yang menunjukkan tentang masalah ini. Dan cukuplah bagi kita apa yang dilakukan oleh Nabi SAW di Mekah sebagai petunjuk. Bagaimana beliau membodoh-bodohkan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) orang-orang Quroisy, dan beliau menunjukkan sikap baroo’ beliau terhadap ilaah-ilaah tersebut, serta kufur terhadapnya sampai-sampai mereka menyebut beliau sebagai ash soobi’iy.
Dan jika engkau ingin mempertegas dan meyakinkan mengenai masalah ini silahkan kaji dan renungkan ayat-ayat Al Qur’an yang makkiy (turun sebelum hijroh ke Madinah). Yang mana setiap kali turun kepada Nabi SAW beberapa ayat saja akan segera tersebar ke timur, ke barat, ke utara dan ke selatan. Dan menjadi bahan pembicaraan di pasar-pasar, di majlis-majlis dan di pertemuan-pertemuan.. dan ayat-ayat tersebut berbicara kepada orang-orang Arab dengan bahasa mereka yang dapat dipahami.. dengan jelas dan gamblang ayat-ayat tersebut membodoh-bodohkan ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) mereka, dan yang paling utama adalah laata, uzzaa dan yang ketiga adalah manaat, yang merupakan ilaah-ilaah terbesar pada zaman itu. Dan ayat-ayat itu menyatakan baroo’ terhadap ilaah-ilaah tersebut, tidak menyetujui atau meridloinya dan tidak pula menyembunyikan sedikitpun dari sikap-sikap semua itu…. Karena beliau hanyalah seorang pemberi peringatan.
Maka orang-orang yang menempatkan diri di bidang dakwah pada zaman sekarang ini, mereka perlu untuk merenungkan ayat-ayat tersebut baik-baik, dan banyak mengevaluasi diri …karena gerakan dakwah yang ingin berjuang untuk memenangkan diin Alloh ta’aalaa namun dia melemparkan prinsip yang pokok ini kebelakang punggungnya, tidak akan mungkin berjalan sesuai dengan manhaj para Nabi dan Rosul… dan lihatlah pada zaman ini kita menghadapi tersebarnya syirik berupa berhukum kepada undang-undang dan hukum buatan manusia. Maka dakwah ini harus, dan tidak boleh tidak, untuk meneladani NabiNya dalam mengikuti millah Ibrohim dengan cara membodoh-bodohkan undang-undang tersebut, menyebutkan dan mengungkapkan kekurangan-kekurangannya kepada menusia, menyatakan permusuhan kepadanya serta mendakwahkan itu semua kepada manusia … kalau tidak, lalu kapan kebenaran ini akan nampak, dan bagaimana manusia dapat memahami diin mereka dengan benar, serta dapat membedakan antara yang haq dan yang batil dan antara musuh dan waliy (kawan)… dan mungkin mayoritas orang berdalih dengan kemaslahatan dakwah dan untuk menghidari fitnah (bencana/kerusakan) … padahal fitnah apakah yang lebih besar dari pada menutup-nutupi tauhid dan menipu manusia tentang diin mereka. Dan kemaslahatan apakah yang lebih besar dari pada menegakkan millah Ibrohim serta menunjukkan sikap berwalaa’ kepada diin Alloh ta’aalaa dan permusuhan kepada thoghut yang diibadahi dan ditaati selain Alloh ta’aalaa. Dan apabila kaum muslimin tidak mendapatkan ujian dalam rangka melaksanakan itu semua, juga apabila pengorbanan itu tidak dipersembahkan dalam rangka menjalankan itu semua, lalu untuk apa ujian itu akan terjadi… maka kufur terhadap thoghut itu adalah kewajiban bagi setiap muslim, yang merupakan setengah dari syahaadatul Islaam… dan mengumumkan hal itu, menunjukkan serta menampakkannya adalah kewajiban besar juga yang harus disampaikan secara terang-terangan oleh seluruh jamaah-jamaah Islam atau minimal oleh sekelompok orang dari setiap jamaah, sehingga hal ini menjadi terkenal dan tersebar, serta menjadi simbol dan ciri khas bagi gerakan-gerakan dakwah tersebut, sebagaimana Nabi SAW dulu. Bukan hanya ketika berkuasa saja, akan tetapi juga ketika dalam keadaan lemah dan tertindas. Sehingga beliau dituding, diwaspadai dan dikatakan telah memusuhi ilaah-ilaah (sesembahan-sesembahan) dan lain-lain… dan sungguh kami heran, kemaslahatan dakwah apakah yang ditangisi oleh para da’i (juru dakwah) tersebut. Dan diin apakah yang ingin mereka tegakkan serta perjuangkan, sedangkan rata-rata mereka gemar memuji undang-undang buatan manusia --- dan sungguh ini adalah musibah --- dan sebagian mereka menyanjung dan memberikan kesaksian atas kesuciannya. Dan banyak di antara mereka yang bersumpah untuk menghormati dan mematuhi butir-butir dan ketentuan-ketentuannya. Yang bertolak belakang dengan prinsip dan jalan yang seharusnya ditempuh. Maka sebagai ganti dari menampakkan dan menunjukkan permusuhan serta kekufuran terhadapnya, mereka menunjukkan sikap walaa' dan ridlo kepadanya. Maka apakah orang-orang semacam mereka ini bisa dikatakan sedang menyebarkan tauhid dan menegakkan diin?! Hanya kepada Alloh lah kita mengadu…
Permasalah menampakkan dan menunjukkan (baroo’ dan permusuhan terhadap ilaah-ilaah selain Alloh dan thoghut) ini, lain dengan permasalahan mengkafirkan penguasa yang bersikukuh menjalankan hukum selain syariat Ar Rohmaan (Alloh yang Maha Pengasih) … karena permasalahan ini berkaitan dengan undang-undang atau syariat atau hukum yang berlaku, dihormati dan dilaksanakan di kalangan manusia.
Masalah kedua: yaitu baroo’ kepada orang-orang musyrik serta kufur terhadap mereka. Juga menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada mereka.
Al ‘Allaamah Ibnul Qoyyim rh dalam buku Ighootsatul Lahfaan mengatakan: “Dan tidak ada orang yang selamat dari syirik akbar ini kecuali orang yang memurnikan tauhidnya kepada Alloh ta’aalaa dan memusuhi orang-orang musyrik karena Alloh ta’aalaa, dan beribadah kepada Alloh ta’aalaa dengan cara membenci mereka.” Dan ia (Ibnul Qoyyim) mengatakan bahwa permasalahan ini --- yaitu masalah bersikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik --- dikatakan oleh Ibnu Taimiyah lebih utama dari pada permasalahan yang pertama di atas (yaitu baroo’ terhadap sesembahan-sesembahan mereka).
Dan Syaikh Hamad bin ‘Atiiq rh dalam buku Sabiilun Najaat Wal Fikaak mengatakan mengenai ayat:
إنا برءاؤا منكم ومما تعبدون من دون الله
Sesungguhnya kami baroo’ kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi selain Alloh. (Al Mumtahanah: 4)
Ia mengatakan: “Dan di sini ada poin penting yaitu bahwasanya Alloh ta’aalaa lebih mendahulukan sikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik dan orang-orang yang beribadah kepada selain Alloh ta’aalaa dari pada sikap baroo’ terhadap berhala-berhala yang diibadahi selain Alloh ta’aalaa, kerena yang pertama itu lebih penting dari pada yang kedua. Sebab sesungguhnya jika seseorang baroo’ terhadap berhala namun tidak baroo’ terhadap orang-orang yang beribadah kepadanya berarti dia belum melaksanakan kewajibannya. Dan adapun jika ia telah baroo’ kepada orang-orang musyrik maka pasti baroo’nya sudah mencakup baroo’ terhadap sesembahan-sesembahan mereka. Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
وأعتزلكم وما تدعون من دون الله
Dan aku tinggalkan kalian dan apa-apa yang kalian ibadahi selain Alloh. .. (Maryam: 48)
Dalam ayat ini lebih didahulukan meninggalkan mereka dari pada meninggalkan apa yang mereka sembah selain Alloh ta’aalaa. Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
فلما اعتزلهم وما يعبدون من دون الله
Maka ketika ia meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh… (Maryam: 49)
Dan firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
وإذ اعتزلتموهم وما يعبدون من دون الله
Dan ingatlah ketika kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh. (Al Kahfi: 16)
Maka renungkanlah poin ini niscaya akan terbuka bagimu sebuah pintu menuju permusuhan dengan musuh-musuh Alloh ta’aalaa. Karena betapa banyak orang yang tidak berbuat syirik akan tetapi ia tidak memusuhi orang-orang yang berbuat syirik, sehingga ia tidak bisa dikatakan sebagai orang muslim karena dia tidak melaksanakan diin seluruh Rosul.”[1]
Dan Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan  dalam sebuah risalah yang terdapat dalam buku Ad Duror As Sunniyah mengatakan: “Dan seseorang kadang terbebas dari kesyirikan dan mencintai tauhid akan tetapi dia melakukan kekurangan dengan tidak bersikap baroo’ terhadap orang-orang musyrik, serta tidak berwalaa’ dan membela ahlut tauhiid. Maka berarti dia telah mengikuti hawa nafsunya dan terjerumus ke dalam cabang kesyirikan yang merobohkan diinnya dan apa yang dia bangun dan meninggalkan tauhid baik pokoknya maupun cabangnya yang mengakibatkan iman yang ia ridloi tidak lurus.  Karena dia tidak mencintai dan tidak membenci karena Alloh ta’aalaa, serta tidak bermusuhan dan berwalaa’ atas dasar keagungan Dzat yang telah menciptakannya dengan sempurna. Dan semua (pemahaman) ini di ambil dari laa ilaaha illallooh.” (Dari juz Jihad, hal. 681)
Dan dalam buku yang sama hal. 842 tapi dalam risalah yang berbeda ia juga mengatakan: “Dan ibadah kepada Alloh ta’aalaa yang paling utama adalah membenci, marah, memusuhi dan jihad terhadap musuh-musuh Alloh ta’aalaa yang musyrik. Dengan ini seseorang dapat selamat dari berwalaa’ kepada selain orang-orang beriman. Dan jika dia tidak melakukannya berarti dia telah berwalaa’ kepada mereka sesuai apa yang tidak ia lakukan itu. Maka waspadalah terhadap hal-hal yang dapat merobohkan Islam dan mencabut akarnya.”
Dan Sulaimaan bin Samhaan mengatakan:
يوال ولم يبغض ولم يتجنب
وليس على نهج قويم معرب
فمن لم يعاد المشركين ولم
فليس على منهاج سنة أحمد
maka barangsiapa tidak memusuhi orang-orang musyrik dan tidak ..
berwalaa’ atau membenci atau memusuhi …
maka dia tidak berada di atas manhaj sunnah Ahmad (Nabi Muhammad)..
dan dia tidak berada di atas jalan yang lurus yang diturunkan di Arab..
Dan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rh mengatakan: “Seorang muslim harus menyatakan bahwa dirinya adalah termasuk kelompok orang beriman, sehingga ia menguatkan kelompok tersebut dan kelompok tersebut menguatkan dirinya, serta menggentarkan thoghut yang mana mereka tidak akan memusuhinya dengan keras sampai dia menyatakan permusuhannya tersebut kepada mereka dan bahwasanya dia termasuk kelompok yang memerangi mereka.” (dari Majmuu’atut Tauhiid)
Syaikh Husain dan Syaikh ‘Abdulloh, keduanya anak dari Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, keduanya ditanya mengenai orang yang masuk Islam dan dia mencintai Islam dan para pemeluknya, akan tetapi dia tidak memusuhi orang-orang musyrik atau dia memusuhi mereka tapi tidak mengkafirkan mereka, maka di antara isi jawaban keduanya berbunyi: “Barangsiapa mengatakan; Saya tidak memusuhi orang-orang musyrik, atau memusuhi mereka tapi tidak mengkafirkan mereka, maka dia bukan orang muslim. Dan dia termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Alloh ta’aalaa dalam firmanNya yang berbunyi:
ويقولون نؤمن ببعض ونكفر ببعض ويريدون أن يتخذوا بين ذلك سبيلا أولئك هم الكافرون حقا وأعتدنا للكافرين عذابا مهينا
Dan mereka mengatakan; Kami beriman dengan sebagian kitab dan kafir dengan sebagian yang lain, dan mereka hendak menempuh jalan antara hal itu. Mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar kafir. Dan Kami telah siapkan bagi orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (An Nisaa’: 151)
(Dinukil dari Ad Duror).[2]
Sulaimaan bin Samhaan mengatakan:
ووال الذي والاه من كل مهتد
وأبغض لبغض الله أهل التمرد
كذا البرا من كل غاو ومعتد
فعاد الذي عادى لدين محمد
وأحب لحب الله من كان مؤمنا
وما الدين إلا الحب والبغض والولا
maka musuhilah orang-orang yang memusuhi diin Muhammad..
dan berwalaa’lah kepada orang-orang yang berwalaa’ kepadanya dari kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk..
dan cintailah orang yang beriman atas dasar cinta kepada Alloh ta’aalaa ..
dan bencilah orang yang membangkang atas dasar benci karena Alloh..
dan diin itu tidak lain adalah, cinta, benci dan walaa’..
begitu pula baroo’ kepada setiap orang yang menyeleweng dan melampaui batas..
Ia juga mengatakan:
لعاديت من بالله ويحك يكفر
ولما تهاجيهم وللكفر تنصـر
ولكن بأشراط هناك تذكـر
بذا جاءنا النص الصحيح المقرر
وتضليلهم فيما أتوه وأظهروا
وتدعوهموا سرا لذاك وتجهر
وملة إبراهيم لوكنت تشعر
نعم لو صدقت الله فيما زعمـته
وواليت أهل الحق سرا وجهـرة
فما كل من قد قال ما قلت مسلم
مباينة الكفار في كل موطـن
وتكفيرهم جهرا و تسفيه رأيهم
وتصدع بالتوحيد بين ظهورهـم
فهذا هو الدين الحنيفي والهـدى
ya, kalau pengakuanmu kepada Alloh itu benar-benar tulus..
tentu engkau memusuhi orang yang kafir kepada Alloh..
dan tentu engkau berwalaa’ kepada ahlul haq baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan..
dan tentu engkau tidak membenci mereka, dan tentu engkau tidak membela kekafiran..
karena tidak semua orang yang mengatakan sebagaimana yang engkau katakan berarti ia muslim..
akan tetapi ia harus memenuhi syarat-syarat yang ada..
yaitu harus berseberangan dengan orang-orang kafir di setiap tempat..
dalam hal ini telah datang kepada kita nash yang shohiih..
dan mengkafirkan mereka secara terang-terangan serta membodoh-bodohkan akal mereka..
dan menyesatkan apa yang mereka kerjakan serta apa yang mereka tunjukkan..
dan menyatakan tauhid dengan terang-terangan di hadapan mereka..
dan engkau dakwahkan hal itu kepada mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan..
inilah diin yang haniif (lurus), kebenaran..
dan millah Ibrohim jika engkau menyadari..
Tentu tidak kami katakan bahwa menunjukkan baroo’ dan permusuhan ini dilakukan kepada semua orang musyrik sekalipun kepada orang-orang mu-allaf (yang ingin dijinakkan hatinya), atau kepada orang-orang yang menunjukkan kecondongannya untuk menerima Islam dan tidak menunjukkan permusuhan kepada diin Alloh ta’aalaa. Meskipun baroo’ dan permusuhan terhadap semua orang musyrik di dalam hati itu wajib ada, sampai orang musyrik tersebut membersihkan diri dari kesyirikannya. Namun menampakkan, menunjukkan dan menyatakannya secara terang-terangan kepada orang-orang kafir seperti mereka ini lain permasalahannya. Bahkan kepada orang-orang yang sombong dan dholim sekalipun, untuk pertama kali mereka didakwahi agar taat kepada Alloh ta’aalaa dengan cara yang hikmah (bijaksana) dan mau’idhoh hasanah (nasehat yang baik). Jika mereka menerima maka mereka adalah ikhwan-ikhwan kita yang harus kita cintai sesuai dengan ketaatan mereka kepada Alloh ta’aalaa. Hak mereka sama dengan hak kita dan kewajiban mereka sama dengan kewajiban kita. Tapi jika mereka menolak padahal telah diterangkan secara jelas, mereka sombong dan tetap bersikukuh dengan kebatilan dan kesyirikan mereka, dan mereka berdiri dalam barisan yang memusuhi diin Alloh ta’aalaa, maka tidak ada lagi lemah lembut dan mudaahanah (kompromi) dengan mereka… namun kewajiban kita ketika itu adalah menunjukkan dan menampakkan baroo’ kepada mereka… dan di sini harus dibedakan antara keinginan untuk memberi hidaayah kepada orang-orang musyrik dan kafir, berusaha merekrut orang untuk menjadi pembela Islam, lemah lembut dalam penyampaian, hikmah dan mau’idhoh hasanah dan antara permasalahan cinta, benci, walaa’ dan bermusuhan atas dasar diin Alloh ta’aalaa. Karena banyak orang yang mencampur adukkan masalah ini sehingga mereka merasa rancu dengan banyak nash, seperti nash yang berbunyi:
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون
Ya Alloh, berilah petunjuk kaumku karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui.
Dan nash-nash yang lain.
Dan Ibrohim telah baroo’ kepada orang yang paling dekat dengannya ketika ternyata orang yang paling dekat tersebut bersikukuh dengan kesyirikan dan kekafirannya. Alloh ta’aalaa berfirman tentang beliau:
فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه
Maka ketika jelas baginya bahwasanya dia (yaitu bapaknya) itu musuh Alloh iapun baroo’ kepadanya. (At Taubah: 114)
Hal itu beliau lakukan setelah beliau mendakwahinya dengan hikmah dan mau’idhoh hasanah. Engkau dapatkan beliau mengatakan kepada bapaknya:
يا أبت إني قد جاءني من العلم
Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu.. (Maryam: 43)
يا أبت إني أخاف أن يمسك عذاب من الرحمن
Wahai bapakku sesungguhnya aku takut jika engkau tersentuh siksaan dari Ar Rohmaan.. (Maryam: 45)
Dan demikian pula Musa dengan Fir’aun... setelah Alloh ta’aalaa mengutusnya dan berfirman:
فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى
Maka katakanlah kepadanya dengan perkataan yang lembut supaya dia mengambil pelajaran atau merasa takut..(Toohaa: 44)
Maka beliaupun memulai dengan kata-kata yang lembut mengikuti perintah Alloh ta’aalaa. Beliau mengatakan:
هل لك إلى أن تزكى وأهديك إلى ربك فتخشى
Apakah kamu mau mensucikan diri dan saya tunjukkan kamu kepada Robb mu sehingga kamu takut kepadaNya..
Lalu beliau menunjukkan ayat-ayat dan bukti-bukti (mu’jizat)… lalu ketika Fir’aun menunjukkan pendustaan dan penolakan serta bersikukuh dengan kebatilan, maka Musapun berkata kepadanya, sebagaimana yang Alloh ta’aalaa ceritakan:
لقد علمت ما أنزل هؤلاء إلا رب السماوات  الأرض بصائر وإني لأظنك يافرعون مثبورا
Sungguh kamu telah mengetahui mereka itu, kecuali Robb langit dan bumi, tidaklah menurunkan keterangan-keterangan dan sesungguhnya aku menyangkamu sebagai orang yang akan binasa wahai fir’aun. (Al Isroo’:102)
Bahkan beliau mendo’akan kecelakaan untuk mereka dengan doa yang berbunyi:
ربنا إنك آتيت فرعون وملأه زينة وأموالا في الحياة الدنيا ربنا ليضلوا عن سبيلك ربنا اطمس على أموالهم واشدد على قلوبهم فلا يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم
Wahai Robb kami sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan kaumnya berupa perhiasan dan harta di dalam kehidupan dunia ini. Wahai Robb kami, hancurkanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksa yang pedih. (Yuunus: 88)
Oleh karena itu orang-orang yang mendengung-dengungkan nash-nash tentang kelemah-lembutan, kesantunan dan kemudahan secara lepas, dan tidak memahaminya sebagaimana mestinya serta meletakkannya tidak pada tempatnya, hendaknya mereka banyak merenungkan dan memikirkan masalah ini, serta memahaminya dengan baik.. jika mereka memang benar-benar tulus ikhlas…
Dan setelah itu hendaknya mereka memahami dengan baik, bahwasanya barangsiapa yang telah dinasehati dengan berbagai macam cara dan yang kebanyakan menggunakan cara-cara yang lembut dan santun, baik melalui surat atau buku atau secara langsung dan berhadap-hadapan, yang dilakukan oleh para da’i (juru dakwah), dan telah dijelaskan kepadanya bahwasanya berhukum dengan selain apa yang diturunkan Alloh ta’aalaa itu kafir… dan dia telah memahami bahwasanya dia tidak boleh memutuskan perkara dengan selain syariat Alloh ta’aalaa … akan tetapi meskipun demikian dia tetap bersikukuh dan menyombongkan diri… meskipun secara dhohir di berbagai kesempatan dia tertawa dihadapan orang-orang yang malang itu dengan memberikan janji-janji kosong lagi dusta dan dengan kata-kata manis serta alasan-alasan yang lemah dan palsu…sedangkan perbuatannya mendustakan ucapannya. Hal itu nampak dari sikap dia yang membiarkan dan tinggal diam terhadap tumbuhnya kekafiran dan kerusakan di dalam negri dan di tengah-tengah manusia dari hari ke hari. Dan dia bersikap keras terhadap para da’i (juru dakwah) dan orang-orang yang beriman, dan menekan mush-lihiin (para aktifis pembaharuan / reformer) setelah sebelumnya senantiasa mengawasi mereka dengan para aparat dari intel dan kepolisian… dan dalam waktu yang sama ia memberikan keleluasaan kepada semua orang yang memerangi diin Alloh ta’aalaa, serta memberikan kelonggaran kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa dan memberikan kemudahan terhadap sarana-sarana yang merusak kepada musuh-musuh Alloh ta’aalaa bahkan menyediakan media-media massa untuk menyiarkan kerusakan dan penyelewengan mereka. Serta mengeluarkan undang-undang dan peraturan-peraturan untuk menghukum setiap orang yang menyerang El Yaasiq gaya barunya yang merupakan kesyirikan, atau orang yang menyatakan kekufuran dan baroo’nya terhadap undang-undang tersebut atau menghinanya atau menerangkan kebatilannya kepada manusia.. dan dia bersikukuh untuk menetapkannya sebagai sandaran hukum yang menjadi pemutus perkara diantara manusia dalam masalah darah (nyawa), harta dan sex (perkawinan) mereka, meskipun hukum tersebut dipenuhi dengan kufrun bawwaah (kekafiran yang nyata).. dan dia tidak mau tunduk dengan syariat Alloh ta’aalaa, dan dia tidak mau menjadikan syariat tersebut sebagai landasan hukum padahal dia mengetahui hal itu merupakan kewajiban dan yang menjadi tuntutan mush-lihiin (para aktifis pembaharuan / reformer)… dengan orang yang semacam ini kita  tidak boleh bermudaahanah (kompromi) atau berdamai atau menunjukkan sikap-sikap yang baik atau menghormatinya dengan gelar-gelar yang ia miliki atau mengucapkan selamat pada hari-hari besar  dan pada momen-momen tertentu atau menunjukkan walaa’ kepadanya dan kepada pemerintahannya… namun tidak dikatakan kepadanya kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya kepada kaum mereka, yaitu; Sesungguhnya kami baroo’ terhadap kamu, terhadap undang-undangmu dan terhadap hukummu yang merupakan kesyirikan, dan juga terhadap pemerintahanmu yang kafir.. kami kufur (ingkar) terhadap kalian.. dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian kembali kepada Alloh ta’aalaa dan tunduk serta patuh kepada syariatNya semata.. dan juga termasuk dalam hal ini adalah mengingatkan orang lain agar tidak berwalaa’, taat dan merasa tenang dengan mereka, dan agar tidak memperbanyak jumlah mereka dengan cara menjadi pegawai-pegawai mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang dapat membantu kebatilan mereka atau memperkokoh pemerintahan mereka, dan yang berfungsi menjaga atau melaksanakan undang-undang mereka yang batil seperti menjadi tentara, polisi, intel dan lain-lain…
Dan sungguh sikap salaf terhadap para penguasa mereka pada zaman mereka --- yang mana para penguasa tersebut sama sekali tidak dapat disamakan dengan para thoghut jaman sekarang dan orang-orang yang semacam dengan mereka --- adalah sikap yang tegas, jelas dan bersih.. dan dimanakah posisi para da’i (juru dakwah) pada zaman kita sekarang ini jika dibandingkan dengan sikap para salaf tersebut… padahal para da’i tersebut sangat terkenal dan para pengikut mereka bertepuk tangan untuk mereka… dan padahal para salaf tersebut bukanlah lulusan dari fakultas-fakultas politik atau hukum. Dan mereka juga tidak membaca surat-surat kabar atau majalah-majalah yang busuk dengan dalih untuk memahami tipu daya musuh… namun demikian mereka lari dari penguasa dan pintu-pintunya. Sedangkan penguasa tersebut mencari dan membujuk mereka dengan harta dan yang lainnya. Adapun orang-orang yang mengaku mengikuti salaf pada hari ini, dari kalangan orang-orang yang diin mereka dipermainkan oleh syetan, mereka mencari keuntungan dunia mereka dengan cara merusak diin mereka. Mereka mendatangi dan mencari-cari pintu penguasa sedangkan penguasa menghinakan mereka dan berpaling dari mereka… dahulu salaf melarang masuk ke istana para penguasa yang dholim, meskipun untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar sekalipun, karena khawatir akan tertipu dengan mereka sehingga ia akan bermudaahanah (kompromi) dengan mereka atau berbaik-baikan dengan mereka karena mereka memuliakannya, atau ia akan diam dan membiarkan sebagian kebatilan mereka. Dan para salaf dahulu memandang bahwasanya menjauhi dan mengasingkan diri dari penguasa itu lebih baik, sebagai bentuk dari baroo’ dan ingkar mereka terhadap tindakan-tindakan penguasa tersebut.. dan coba dengarkan apa yang dikatakan oleh Sufyaan Ats Tsauriy dalam suratnya kepada ‘Ibaad bin ‘Ibaad yang berbunyi: “Janganlah kamu mendekati atau bergaul dengan para penguasa sedikitpun. Dan jangan sampai ada yang mengatakan kepadamu;(Lakukan saja) supaya kamu dapat membela atau mempertahankan orang yang didholimi atau mengembalikan hak orang yang diambil secara dholim. Karena ini adalah tipu daya iblis...yang dijadikan tangga (dalih) oleh para quroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat.” (Dari Siyarul A’laam An Nubalaa’ XIII/586 dan Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadl-lihi I/179) Lihatlah, Sufyaan Ats Stauriy rh mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh para da’i hari ini sebagai kemaslahatan dakwah adalah “tipu daya iblis”. Dan beliau tidak mengatakan kepada orang yang melakukannya sebagaimana yang dikatakan oleh banyak da’i zaman sekarang yang menghabiskan umur mereka untuk mengejar kemaslahatan dakwah dan membela diin di sisi musuh-musuh dan orang-orang yang memerangi diin: “Tidak begitu wahai saudaraku!! Pertahankanlah posisimu dan dekatilah mereka supaya kamu dapat meraih kedudukan atau mendapatkan kursi di kementerian atau di parlemen, dan supaya kamu dapat meringankan kedholiman atau dapat memberikan manfaat kepada saudara-saudaramu. Jangan kamu biarkan jabatan ini dipegang oleh orang-orang yang banyak maksiyat dan orang-orang yang jahat sehingga mereka memanfaatkannya dan… dan…” Namun beliau menyebut hal ini sebagai tangga (dalih) para qurroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat untuk meraih kesenangan dunia. Dan jika pada zaman mereka saja seperti ini, lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang. Kami memohon kepada Alloh ta’aalaa kesejahteraan dan kami berlindung kepada Alloh ta’aalaa dari kejahatan orang-orang zaman sekarang dan dari kejahatan tipu daya mereka. Semoga Alloh ta’aalaa merahmati orang yang mengatakan:
فيه الشقاء وكل كفــر دان
من دون نص جاء في القـرآن
حب الخلاف ورشوة السلطان
قوم تراهم مهطعين لمجلـس
بل فيه قانون النصارى حاكما
تبا لكم من معشر قد أشـربوا
sebuah kaum kau lihat mereka bergegas-gegas menuju majlis…
yang di dalamnya terdapat kesengsaraan dan segala kekafiran yang hina…
bahkan di dalamnya terdapat undang-undang nasrani berkuasa…
dan bukan nash yang datang dari Al Qur’an…
sungguh celaka kalian wahai sekumpulan manusia yang telah terbuai dengan…
cinta perselisihan dan menyuap penguasa…
Dan lihatlah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, beliau sering mengulangi perkataan Sufyaan Ats Tsauriy yang berbunyi: “Barangsiapa bergaul dengan pelaku bid’ah, dia tidak akan selamat dari salah satu dari tiga hal:
-          Orang lain akan terkecoh dengan perbuatannya yang bergaul dengan pelaku bid’ah tersebut. Sedangkan dalam hadits disebutkan:
من سن في الإسلام سنة  حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده، من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة  سيئة كان عليه وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
Barangsiapa membuat sebuah kebiasaan baik dalam Islam maka dia mendapatkan pahala amalannya dan amalan orang-orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat sebuah kebiasaan yang jelek dalam Islam maka dia mendapatkan dosa dari perbuatannya dan perbuatan orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (Hadits ini diriwayatkan Muslim)
-          Atau hatinya akan menganggapnya baik, sehingga ia akan tergelincir, lalu dengan itu Alloh akan memasukkannya ke dalam naar (neraka).
-          Atau dia akan mengatakan: Demi Alloh saya tidak akan menghiraukan apa yang mereka katakan dan saya yakin bahwa diriku akan tetap teguh. Padahal barang siapa merasa aman dari hal-hal yang merusak diinnya sekejap mata saja maka Alloh ta’aalaa akan merampas diinnya darinya.” (Dari Ad Duror As Sunniyah dan lain-lain)
Jika bergaul dengan pelaku bid’ah yang kebid’ahannya tidak sampai mengakibatkan kafir --- sebagaimana yang dipahami dari berbagai perkataan mereka --- saja mereka katakan seperti ini… lalu apa kiranya yang akan mereka katakan mengenai bergaul dengan orang-orang murtad dari kalangan penyembah undang-undang dan orang-orang musyrik lainnya. Dan coba perhatikan perkataannya pada poin ke tiga yang berbunyi “sesungguhnya aku yakin bahwa diriku akan tetap teguh” Dan berapa banyak para da’i pada zaman sekarang ini yang berguguran lantaran hal ini. Maka carilah keselamatan dan carilah keselamatan..
Yang jelas bagaimanapun Alloh ta’aalaa telah membantah semua metode yang bengkok tersebut yang para pelakunya berangan-angan bahwa dengannya mereka akan dapat memenangkan diin ini. Maka Alloh ta’aalaa menerangkan bahwasanya tidak ada kemenangan yang dapat diharapkan dan tidak ada kemaslahatan diin sama sekali yang terdapat pada mendekatkan diri kepada orang-orang dholim. Dalam surat Huud yang telah membuat Nabi SAW beruban Alloh ta’aalaa berfirman:
ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون
Dan janganlah kalian rukuun (sedikit condong) kepada orang-orang dholim yang akan menyebabkan kalian disentuh naar (api neraka). Dan tidak ada wali (pelindung) bagi kalian selain Alloh kemudian kalian tidak akan mendapat pertolongan. (Huud: 113)
Maka tidak ada kemenangan bagi diin atau kemaslahatan yang terletak pada berbagai mudaahanah (kompromi) dan jalan-jalan yang menyimpang ini, meskipun orang-orang menyangka demikian… kecuali jika sentuhan naar (api neraka) itu menurut mereka adalah kemaslahatan dakwah … maka sadarlah dari tidurmu dan janganlah kamu terpengaruh oleh setiap orang yang berkicau dan menggonggong.
Para ahli tafsir mengatakan tentang firman Alloh ta’aalaa yang berbunyi:
لا تركنوا
Janganlah kalian rukuun.
Ar Rukuun artinya adalah sedikit condong.
Abul ‘Aaliyah berkata: “Dan janganlah kalian condong kepada mereka dengan sepenuhnya dalam mencintai dan lemah-lembut dalam berbicara.”
Dan Sufyaan Ats Tsauriy mengatakan: “Barangsiapa mencairkan tinta atau merautkan pena atau mengambilkan kertas untuk mereka maka dia telah terjerumus dalam larangan tersebut.”
Syaikh Hamad bin ‘Atiiq berkata: “Alloh ta’aalaa mengancam untuk menyentuhkan naar (api neraka) kepada setiap orang yang rukuun (sedikit condong) kepada musuh-musuhNya meskipun hanya dengan berkata lembut.”
Dan Syaikh ‘Abdul Lathiif bin ‘Abdur Rohmaan --- beliau juga termasuk salah seorang imam dakwah najdiyah salafiyah --- setelah menyitir perkataan para ahli tafsir yang berkenaan dengan makna rukuun di atas, ia mengatakan: “Hal itu karena dosa syirik itu merupakan tingkatan kemaksiatan kepada Alloh ta’aalaa yang paling tinggi. Lalu bagaimana jika selain itu ditambah dengan sesuatu yang lebih buruk lagi, seperti mengolok-olok ayat-ayat Alloh ta’aalaa, mencampakkan hukum-hukum dan perintah-perintahNya, dan menyebut apa yang menyelisihi dan bertentangan denganNya sebagai keadilan, sedangkan Alloh ta’aalaa, RosulNya dan orang-orang beriman mengetahui bahwa itu semua adalah kekafiran, kebodohan dan kesesatan. Barangsiapa memiliki sedikit saja harga diri dan hatinya masih ada kehidupan tentu dia akan tersinggung karena Alloh ta’aalaa, Rosul, kitab dan diinNya, dan tentu dia akan mengingkarinya dengan keras pada setiap pertemuan dan setiap majlis. Dan ini merupakan jihad yang mana tanpa dengannya tidak akan terjadi jihad melawan musuh. Maka tunjukkanlah diin Alloh ta’aalaa dan senantiasalah saling mengingatkan tentangnya, celalah apa yang menyelisihinya dan baroo’ kepadanya dan kepada pelakunya. Dan perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan kepada kerusakan yang sangat besar ini. Dan perhatikanlah dalil-dalil syar’iy yang menutup sarana-sarana tersebut. Kebanyakan manusia meskipun dia telah baroo’ kepadanya dan kepada pelakunya namun mereka menjadi bala tentera pemimpi mereka, ramah kepada pemimpin tersebut dan menjaga kekuasaannya. Hanya kepada Alloh ta’aalaa sajalah kita memohon pertolongan.” (Dari Ad Duror, juz Jihad, hal. 161) Demi Alloh, alangkah menakjubkannya beliau ini, seolah-olah ia berbicara mengenai jaman kita sekarang ini.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab mengatakan: ”Alloh…Alloh…Wahai saudara-saudaraku berpegang teguhlah kalian dengan pokok diin kalian. Dan yang mana yang paling utama, pondasi dan kepalanya adalah syahadat laailaaha illallooh. Pahamilah artinya, cintailah ia dan orang-orang yang melaziminya, dan jadikanlah mereka sebagai saudara-saudara kalian meskipun secara nasab (hubungan darah) mereka jauh darimu. Dan kufurlah terhadap thoghut, musuhilah dan bencilah mereka dan bencilah pula orang yang mencintai mereka. Atau debatlah dia kenapa dia tidak mengkafirkan mereka, atau kenapa dia mengatakan; Apa peduliku dengan mereka, atau kenapa dia mengatakan; Alloh ta’aalaa tidak membebaniku untuk mengurusi mereka. Karena orang ini telah membuat kebohongan atas nama Alloh… dan telah berbuat dosa yang nyata. Karena sesungguhnya Alloh ta’aalaa telah memerintahkan kepada setiap muslim agar membeci orang-orang kafir, dan mewajibkannya agar memusuhi dan mengkafirkan mereka serta baroo’ terhadap mereka, meskipun mereka itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudaranya. Oleh karena itu takutlah kepada Alloh dan takutlah kepada Alloh…pegangiah itu semua supaya kalian menjumpai Robb kalian dalam keadaan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (Dari Majmuu’atut Tauhiid)


[1] Yang dimaksud Syaikh di sini adalah --- walloohu a’lam --- ia tidak memusuhi dan tidak membenci mereka baik secara global maupun secara terperinci, sampai meskipun dalam hati. Bahkan sebagai gantinya ia memendam rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka. Orang semacam ini tidak diragukan lagi telah batal imannya dan telah meninggalkan diin seluruh Rosul. Alloh berfirman:
لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله
Kamu tidak akan mendapatkan sebuah kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Alloh dan RosulNya.
[2] Lihat catatan kaki sebelumnya.